(Kami menunggu karya-karya Anda)
* Puisi karya Daud
RINDOE BAK TANGKAI TAK BEROEDJOENG
hoedjan sahadja tak mampoe mentjegatnja.
itoe perasaan teroes terbajang-bajangkan.
setasioen toegoe boleh menjaksikannja…
diindjak-indjak betoel rasa tjinta …
dikedjar-kedjarkan senjap hatinja…
dari petjinan di tengah kota
sehingga kijrkoof di dekat podjok beteng sana
dari kali tjode djernih
sehingga goenoeng merapi jang terkasih
menoenggoe teroes sahadja menoenggoe
mentjari teroes sahadja mentjari
rindoe bak tangkai tak beroejoeng…
A.Puisi I
Karya Retno Sulistyowati
Guru Bahasa Indonesia
SMA Kertanegara Malang
Bintang Telah Memudar
Cahaya itu datang,
Semakin terang dan menyilaukan.
Tergores senyum mengembang di hati mereka.
Mereka berlari untuk menyambutnya.
Namun, tiba-tiba kegalauan itu datang
Menghentikan langkah mereka,
keresahan menjadi benalu dalam benaknya.
Puing-puing kekecewaan telah menyumbat nafasnya
Harapan tinggal harapan, tanpa batas.
Dan kini Bintang tak bersinar lagi.
Tirai Kehidupan
Karya Retno Sulistyowati
Guru Bahasa Indonesia
SMA Kertanegara Malang
Kita pernah mencoba,
Keberadaan kita
yang penuh dengan keraguan
dan ketidak pastian.
Hanya pertemuanku dengan Nya,
dikeheningan dan ketenangan malam
Peluh mengalir
Menyatukanku dengan Robb
Hanya malam itu.
B. Puisi II
Karya Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia
SMA Negeri 7 Malang
Aku Terpenjara
Aku terpenjara di antara warna itu
Putih……………………………………….
Gelap……………………………………..
Gelap namun tak hitam
Tak hitam tapi tak kuasa memandang
Mataku seolah buta karenanya
Alam yang luas itu seketika sempit
Hanya aku, hanya aku
Objek pandang yang tertangkap oleh sorot mataku sendiri
Ke mana arah?
Hanya putih,
Dingin…………………………………….
Makin sadarkan bahwa diriku tak kuasa
Takut………………………………………
Seolah tlah datang janji-Mu
Tatkala bumiku berpijak Kau gulung dari hamparan
Masa yang mengerikan
Karena kutahu
Bahwa diriku belum pandai meraih cinta-Mu
Tuhan,
Aku terpenjara
C. Puisi III
Karya Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia
SMA Negeri 7 Malang
Lelaki Kecil Kehilangan Bapa
Lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
gemuruh dadaku mengenangnya
kutahan guncangan napasku
agar butiran di mataku tak tumpah olehnya
tersayat hatiku saat pandangi wajahnya
walau tanpa air mata, ia tahu bapanya tiada
dan aku rasakan kehancuran hatinya.
Lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
enam tahun usianya
telah ia tinggalkan yang dipunya
dan yang pergi, harta tiada tara
pelipur jiwa raga
pengisi sukma yang hampa.
lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
pernah kubawa ia ke pusara
kuajarkan membaca realita padanya
dan mohonkan ampun untuk bapanya
selalu, selalu, selalu, sampai ke ujung masa.
lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
kupunya asa untuknya
Di setiap dialogku dengan-Nya
aku meminta, menghamba
agar dia menjadi lentera
penerang ibu-bapanya
lelaki kecil itu telah kehilangan bapa
berjalanlah bagai surya
tegar, pasti, dan penuh semangat membara
jadilah mata air yang mengalirkan doa-doa
jadilah hamba yang taat pada Sang Pencipta
jadilah satria yang berbakti pada negara
D. Puisi IV
Karya Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia
SMA Negeri 7 Malang
Jagoan Kecil, di Mana Kau?
(Sejak malam itu, Mama terusik mencarimu kembali)
Di antara warna-warni air, kau memanggil
Sukmaku tergerak dan berenang bersamamu
Kau mendekat lalu menjauh
Begitu gesit melejit meninggalkanku
Aku terengah mengejarmu
Terkepung arus di segala arah mata angin
Terjebak dalam pusaran lubuk penantian
Kau pun menghilang
Air kembali bening
Tak ada arus
Hanya warna-warni berpendar karena angin
Di mana kau?
Tak kaurasakah rinduku?
yang kuhembus setiap waktu
Tak kaudengarkah nyanyianku?
yang kudendangkan dengan irama lagu pilu
Datanglah, Nak!
Tanpamu:
Tembang nenek moyang terdengar sumbang
Kuncup kehidupan menjadi layu
Garis sejarah akan terputus
Sungguh menyedihkan!
Dan aku?
Tak lagi punya arti.
E. Puisi V
Karya Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia
SMA Negeri 7 Malang
Dialog dengan Tuhan
Tuhan…
Sepenuhnya aku yakin hidupku dalam genggaman-Mu.
Sebagaimana aku percaya matiku dalam suratan-Mu.
Dan aku jalani qodar-Mu seiring terbit dan tenggelamnya matahari.
Sungguh banyak asa yang kugantungkan pada-Mu, setiap waktu.
Namun lebih banyak lagi nikmat yang Engkau tebarkan.
Sampai aku tak sanggup mengumpulkan dalam catatan hidupku.
Berjalan aku menuju arah Kau tempatkan belas kasih-Mu.
Dan berdialog dengan-Mu serasa Engkau sedekat urat leherku.
Walau tak pernah kudengar jawabmu, tapi Engkau dengarkan rintihanku.
Tuhan…
Masih ada harapan yang tak kunjung padam.
Masih ada mimpi yang Kau rahasiakan.
Maafkan aku Tuhan…
Tak pernah aku belajar curiga kepada-Mu.
Dan tak sedikitpun aku meragukan janji-Mu.
Aku telah belajar untuk menjalani hidup ini dengan ikhlas.
Jika aku tenggelam bersama matahari dan tak terbit esok pagi
Jangan Kau biarkan aku merana.
Dan mereka, yang di dalam tubuhnya mengalir darahku.
F. PUISI VI
(Sebuah apresiasi terhadap hari Ibu)
Karya Rialita Fithra Asmara
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Negeri 3 Malang
Kusapa Pagi dengan Menyebut Namamu, Ibu
Kusapa pagi dengan menyebut namamu, Ibu
Saat embun mulai menetes dari pucuk-pucuk daun
Lalu jatuh dalam pelukan bumi
Serasa kumelihat wajahmu yang teduh
Membentangkan kedua tanganmu seolah siap memelukku
Dengan pelukan terhangat di seluruh jagad
Ah…ibu, ini rindu keberapa?
Jumlahnya makin bertambah seiring matahari yang rajin menyapa bumi
Aku jadi ingat
Kausapa aku dengan senyuman saat aku menangis untuk pertama kalianya
Kau juga begitu rajin melihat perkembanganku,
Saat aku mulai bisa berkata i…bu
Saat aku mulai bisa merangkak
Puncaknya, saat aku bisa berjalan
Waktu itu…
Kauhujani aku dengan ribuan ciuman
Dan aku yang tak mengerti apa-apa menangis tak karuan
Kemudian kau menggendongku
Tangisku terhenti seketika
Bu, hiruplah udara yang ada di sekelilingmu
Adakah kau rasa tebaran doa-doa dariku,
ribuan kerinduan dan kasih sayang untukmu?
Ingin kusapa pagi dengan menyebut namamu, Ibu
Saat matahari malu-malu tunjukkan wajahnya
Saat kau berada jauh dari pandangan
Saat aku mengirimkan rindu dan sayangku lewat burung-burung
yang kan singgah ke benua di mana engkau berada kini
G. PUISI VII
Karya Fithra Asmara
Guru Bahasa Indonesia
SMA Negeri 3 Malang
Rindu Memangku Sunyi
Di sini, tak ada mulut yang berbicara
hanya ada hati yang saling merasa
Di sini, tak ada mata yang saling memandang
hanya rindu yang menderu di balik waktu
Di sini, tak ada tubuh yang saling bertemu
hanya mimpi yang sesekali mendatangkanmu
Di sini,
tak ada,
tak ada,
tak ada,
Hanya ak
untuk menghadapi UN 2009. Mo belajar dg cara yg lain silahkan download software simulasi interaktif UN 2009 yg uptodate di http://www.stmikayani.ac.id … dijamin gratis
mantapppppppppp euyyyyyyyy,lanjutin karnyanya yah bu guru cantik
Admin:
Puisi Bun Lis selalu mantap
Saya telat karena baru menemukan blog ini…
Dan isinya ternyata bisa merintuhkan hati,jiwa dan raga…
Pertama kali saya membaca puisi Bu Lis “Aku Terpenjara” Saya sudah mengerti isi puisi tsb….YOU ARE THE Best…Amazing..
Ruar Biasa…Ada energi yang membuat puisi itu terasa hidup..
Terus berkarya
Bu Lilis, terima kasih atas tampilan puisi “Sajak Palsu”.
15 Februari 2009 pada 3:20 pm
puisi guru Lilis Indrawati, S.Pd.
Aku Terpenjara ini sangat menarik…
“Karena kutahu
Bahwa diriku belum pandai meraih cinta-Mu
Tuhan,
Aku terpenjara”
wahhh… sangat bagus puisi ni..
Admin:
Terima kasih atas apresiasi Anda
Semoga terjalin komunikasi yang baik antara guru Indonesia dengan guru Malaysia.
Salam hangat