Sajak Palsu

Posted on Updated on

Puisi ini kami muat atas permintaan Ibu Retno Sulistyowati karena penasaran setelah membaca pengantar  Ibu Lilis Indrawati dalam apresiasi naskah drama Atas Nama Cinta. Berikut kutipannya:

Agus R. Sarjono, penyair nasional yang masih muda dan telah mendunia.

“Kenangan tentang Agus R. Sarjono 9 tahun yang lalu. Pada waktu itu saya menyambut rombongan sastrawan Indonesia yang tergabung dalam acara SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) di SMA Negeri 1 Pamekasan. Di tengah acara, Mas Joni Ariadinata membaca puisi berjudul Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono. Puisi tersebut menggores-gores hati saya sebagai guru. Ini pelecehan profesi. Hati saya merasa pedih jika ada yang menghina guru. Apakah semua kebaikan telah tertutup keburukan? Guru-guru yang baik tidak tampak dan yang ada hanya guru-guru palsu? Kisah dalam Sajak tersebut dimulai dengan sapa dan perhatian palsu yang diberikan murid kepada guru. Guru memberikan nilai palsu kepada murid, sehingga kelak lahirlah birokrat palsu, arsitek palsu, dan semua yang ada dalam kehidupan adalah palsu. Semua berakar dari guru palsu. Komedi yang menyakiti hati. Sejak saat itu nama Agus R. Sarjono tak lekang dalam ingatan saya. Dan puisi tersebut seolah menghantui saya. Akhirnya, saya semakin termotivasi untuk membersihkan citra guru sebagai pahlawan pendidikan. Saya sering membacakan atau mengulas Sajak Palsu dengan tujuan supaya semua pihak melakukan introspeksi diri. Ternyata tajam dan pedasnya kritik Agus R. Sarjono yang dikemas dalam karya yang lucu tidak hanya Sajak Palsu tetapi juga karya-karyanya yang lain termasuk Atas Nama Cinta ini, sebuah ironi dalam naskah drama…”

Sajak Palsu

Karya: Agus R. Sarjono

Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah
dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar
sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah
mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka
yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah
mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru
untuk menyerahkan amplop berisi perhatian
dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu
dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru
dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu
untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan
nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah
demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir
sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu,
ahli pertanian palsu, insinyur palsu.
Sebagian menjadi guru, ilmuwan
atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi
mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu
dengan ekonomi palsu sebagai panglima
palsu. Mereka saksikan
ramainya perniagaan palsu dengan ekspor
dan impor palsu yang mengirim dan mendatangkan
berbagai barang kelontong kualitas palsu.
Dan bank-bank palsu dengan giat menawarkan bonus
dan hadiah-hadiah palsu tapi diam-diam meminjam juga
pinjaman dengan ijin dan surat palsu kepada bank negeri
yang dijaga pejabat-pejabat palsu. Masyarakatpun berniaga
dengan uang palsu yang dijamin devisa palsu. Maka
uang-uang asing menggertak dengan kurs palsu
sehingga semua blingsatan dan terperosok krisis
yang meruntuhkan pemerintahan palsu ke dalam
nasib buruk palsu. Lalu orang-orang palsu
meneriakkan kegembiraan palsu dan mendebatkan
gagasan-gagasan palsu di tengah seminar
dan dialog-dialog palsu menyambut tibanya
demokrasi palsu yang berkibar-kibar begitu nyaring
dan palsu.

1998

2 thoughts on “Sajak Palsu

    Retno Sulistyowati said:
    9 Juni 2009 pukul 8:15 am

    Bu Lilis, terima kasih atas tampilan puisi “Sajak Palsu” Woo maknanya cukup mengena tanpa basa-basi.

    adhitya said:
    17 Oktober 2009 pukul 8:59 am

    saya berterima kasih atas diposting nya sajak palsu karya Agus R Sarjono….
    karena saya sangat butuh untuk tugas kuliah saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s