Menyentuh Langit

Posted on

Menyentuh Langit
Rialita Fithra Asmara

Tak,
ini bukan jemari gerimis yang menyentuh langit
dan melabuhkan ujungnya
di bumi
Dengan mencipta garis tegak lurus atau bahkan miring kerna tertiup angin
tetapi dialah yang menyentuh langit
yang memiliki sepasang mata yang mahir membaca tanda
sepasang tangan yang rajin membasuh luka
bibir yang tak kunjung henti mengeja
sepasang kaki yang mahir menghafal jalan menuju-Nya
dan wajah yang meminang surga
Tak, luka itu tak membuat matanya buta
Denyut nadi yang tersendat tak melumpuhkan kakinya
Sudah berapa duka dan luka berlabuh padanya
Bahkan malaikat sudah hampir di atas kepalanya
Hingga para dokter pun geleng-geleng kepala
Ah…ia tak peduli, ia terus menyentuh langit
Lewat tangan-tangan tengadah
Di malam buta
Lewat syukur yang tak henti tereja
Kalau toh doanya tak terkabul
Bukankah ia bisa menagihnya di sana
Yang jelas tak henti ia akan menyentuh langit
Mungkin ia perlu belajar pada gerimis

One thought on “Menyentuh Langit

    DwiCy said:
    18 Juli 2010 pukul 11:33 am

    Puisi yang indah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s