KIRIMAN SAJAK CECEP SYAMSUL HARI

Posted on Updated on

(Saya mendapat kiriman 8 sajak dari seorang kawan, penyair muda Indonesia yang smart, humble,  energik,  produktif, dan senang melanglang buana , beliau adalah Cecep Syamsul Hari) Demikian tulisannya:

Kecuali sajak “Anggur János”, “Tarian Angin” dan “Rapsodi Budapest”, sajak-sajak di bawah ini dipublikasikan di edisi perdana Majalah Sastra PUSAT, 2010. Selamat membaca.

Cecep Syamsul Hari
MENINGGALKAN PRAHA

Hanya lambaian tangan Christina
yang telah mengikat takdirku dengan Praha

Burung-burung merpati dalam kabut pagi
taman lengang Dejvicka, pintu-pintu terkunci
jerit trem, langit hampa, pagar tulip kuning
menghambur ke angkasa

Selalu, kubangun kesedihan-kesedihan baru
dengan pertemuan singkat dan kutukan
dengan harum rambut dan pelukan
dengan cinta yang keras kepala

Hanya lambaian tangan Christina
yang akan mengikat takdirku dengan peri Rusalka

Dalam perjalanan pulang ke Keleti
kususun kembali serpihan-serpihan tubuhku
yang hancur di kaca jendela, kursi yang sendiri,
dan pohon-pohon yang berlari ke silam sunyi

Senja, di ruang tunggu Deli
burung-burung merpati bersarang di sepatuku
berebut remahan roti dari kedua telapak tanganku
yang telah berubah menjadi karang

Hanya lambaian tangan Christina
hanya lambaian tangan

hanya lambaian

Praha-Budapest, 2009

Cecep Syamsul Hari
TIDAK ADA LAGI PRAHA YANG HARUS DIPERTAHANKAN

Empat puluh tahun kemudian
hanya ada karangan bunga
separuh kuning separuh jingga
diletakkan di atas tanah

….

Musim semi Jan Zajíc dan Jan Palach

Tidak ada serdadu dan peluru yang datang menyerbu
tidak ada palu dan arit yang mengancam
tidak ada satu pun kamerad yang meludah
di atas tanah Golem dan para peziarah

Tidak ada lagi Praha yang harus dipertahankan

Patung-patung kuda melompat ke angkasa
trem-trem merah memburu gadis-gadis berlidah tembaga
domba-domba gundul berbaju kuning menabuh gendang
berlari dan bernyanyi riang di jalan-jalan

Memanggil-manggil sang gembala Hare Krsna

Di sudut sebuah pintu masuk kereta bawah tanah
tiang salib melintang di antara dua puting mawar
dan lonceng gereja berdentang di dalam lubang pusar
seorang perempuan murung berbaju hitam

Di bagian mana kota ini kekasihku sedang menunggu?

Harimau besi mengaum dalam hutan jiwaku
lentur tulang punggungnya melengkung
sepasang matanya menyapu rimba perburuan
siap menerkam tubuh harum seekor kijang

József Attila, jangan dulu pulang ke Buda,
tinggallah denganku beberapa hari di sini!

Di depan monumen dua Jan
serumpun daun tumbuh di bahu pasangan renta
kursi-kursi taman jauh lebih kekal dari para penguasa
musim semi melampaui jarum jam abadi semua mimpi

Aku menangis, dan jatuh cinta pada kota ini.

Praha, 2009

Cecep Syamsul Hari
VARIASI EMPAT MUSIM

Ia tak tahan sendiri dan sunyi
ditanamnya musim semi
kemudian sekuntum anyelir
lalu setangkai lili air

Ia mengambil segenggam lempung
dan berkata: kun!

Di balik rumpun seorang lelaki muncul dari ketiadaan
tubuhnya yang lemah dan berjakun berdiri telanjang
cemas melihat naga-naga berlarian di bawah jurang
dan singa-singa mengaum di angkasa

Matahari menyimpan butiran berlian
di atas daun-daun
seekor burung paruh kuning bermata permata
berak di atas kilau embun

Seorang Vivaldi dari Tanah Sunda
menemukan kembali sorga yang hilang ini
memandang pinggang lelaki itu
dan bertanya kemana sulbinya yang satu lagi pergi

Ia tak tahan melihat Adam sendiri
ditanamnya musim panas
lalu musim gugur
kemudian musim dingin

Diambilnya tulang rusuk lelaki itu
dan berkata: kun!

Seorang perempuan muncul dari dasar samudera
dengan palung telaga di bawah lehernya
dan sepasang mutiara bersinar di dadanya
Adam penuh sayang memanggilnya Eva

Seperti anyelir dan lili air
mereka tumbuh di musim semi
bercinta sepanjang musim panas
memandang daun-daun musim gugur

Dan berpelukan dalam selimut musim dingin

Dalam putih kabut
dalam pucat udara
dalam pasi semesta
mereka sabar menunggu

Kehidupan baru yang akan tiba
pada bayi musim semi berikutnya

Balatonfüred, 2009

Cecep Syamsul Hari
JALAN NÁDOR

Sebuah kafe tanpa senyum
menyimpan secangkir kopi hitam
di atas meja tanpa tilam
pada siang musim semi yang ranum

denting cangkir dan batuk yang ditahan
suara pemantik api dan trem di jauhan
menggaung sepanjang jalan
menggema sepanjang ruang

Tidak ada wajah yang kupahat
di atas trotoar hitam
tidak ada nama yang kuingat
di bawah kursi taman

Semua pasangan berciuman
mengirimkan pesan-pesan singkat ke sorga
dari bawah tanah dan peron kereta:
bukankah hari Minggu diciptakan untuk cinta?

Tadi malam seorang wanita bermata biru
di sebuah kamar apartemen rahasia
di seberang gedung opera
menyanjung dan menghancurkan hatiku

Budapest, 2009

Cecep Syamsul Hari
POPULUS NIGRA

Seperti bulan belum sempurna
menembus ranting awal musim semi
pohon populus nigra
aku mencarimu tiada henti

Hatiku telah patah berkali-kali
jiwaku padang rumput yang sengsara
nyawaku diterbangkan sepasang gagak hitam
ke luas langit cahaya

tiang salib di gereja tua bukit utara
mungkin Golgotha lain
mungkin via dolorosa lain
bagi seruanku yang lain ke tahta sorga

Tuhanku, Tuhanku!
tidak akan pernah kupalingkan cintaku darimu
Tuhanku, Tuhanku!
jangan pernah kau tinggalkan aku

Balatonfüred, 2009

Cecep Syamsul Hari
ANGGUR JÁNOS

Pada pukul sepuluh malam
kukenang sehelai puisi hidupku

Sendiri, di Jalan Sándor Petőfi

Suara sepasang sepatu
mendahului langkah kaki

Tiada yang lebih dingin dari sepi

Pohon-pohon tumbuh di langit
trotoar menggantung di udara

János si pemberani tidur di ranjang kekasihnya

Pada pukul sepuluh malam
sebotol anggur berubah menjadi tinta darah

Menulis ulang sejarah Magyar

Penyihir-penyihir bertubuh kuda
naga-naga bersayap api
serigala-serigala berkepala manusia
burung-burung gagak berparuh besi
gadis-gadis penari bermata ceri
berpesta di atas bangkai Eropa

Pasukan raksasa berkemah di tepian Duna
menyanyi, merayu, menyumpah, memaki

Dalam bahasa pedalaman Turki

János, János, bangunlah!
lunak payudara telah membuatmu lemah

Hangat tubuh perempuan bukan negeri ibumu

Pergilah ke benteng Citadel
dan lihatlah jauh di bawah

Mereka menangis di atas bangkai Eropa
buah-buah ceri berkelamin wanita
tombak-tombak besi berbentuk burung gagak
manusia berbadan serigala
api naga-naga padam sudah
para penyihir menanggalkan tubuh kuda mereka

Dan berubah menjadi kawanan bagal jinak
pasukan raksasa yang bertenda di tepian Duna

Menggenggam keras palu dan arit mereka

János, János, bangunlah!
hutan anggur perawan telah membuatmu lemah

Erang gairah sang dara bukan negeri ibumu

Pada pukul sepuluh malam
kutemukan rahasia sehelai puisi

Di Jalan Sándor Petőfi

Budapest-Balatonfüred, 2009

Cecep Syamsul Hari
TARIAN ANGIN

Liszt, kini aku faham mengapa dengan seluruh senjamu
kau gubah Tarian Angin di lebuh masa silam.

Begitu lembut, begitu kekar, rahasia jiwa
tanah Magyar, ibu bagi daun-daun pohon kastanya.

Para penyair perkasa lahir dari perut singa yang mengaum
memburu puisi-puisi liar di hamparan tanah datar.

Dan Danube, ah, Duna yang abadi
telah mati berkali-kali, telah bangkit berkali-kali:

Menjadi makam para pahlawan dan pembangkang
dan bagi para penyair, mungkin sorga yang hilang.

Di tepi sungai itu, kucari sebagian sejarahku
pada sepasang sepatu yang menyanyikan Himnusz
pada rumpun mawar yang tumbuh di atas dada berlubang
seorang tawanan yang ditembak mati.

Di tepi sungai itu, kucari sebagian sejarahku
pada duka tatapan mata zaitun
pada luka yang dikandung setiap pertemuan
sepasang pengembara yang enggan kembali.

Negeri kelahiran atau negeri pengungsian
bukankah memiliki layung senja dan kilau malam yang sama?

Liszt, kini aku faham mengapa badai yang kau ciptakan
telah mengubah Tarian Angin menjadi ribuan peri dan bidadari

telanjang di bawah sinar bulan.

Balatonfüred, 2009

Cecep Syamsul Hari
RAPSODI BUDAPEST

– kepada Sándor Bénko

i: bénko dixieland band

Di tangan lelaki itu, sebuah malam di pusat kota
telah berubah menjadi perayaan dixieland

Tidak ada Frank Sinatra dan Liza Minelli di tengah kerumunan
petikan banjo seorang pria tua melemaskan sepasang kaki perawan

Deru saksofon bagai angin musim panas datang lebih awal
badai piano menerbangkan bergelas-gelas bir dingin ke langit kekal

Dengan keriangan yang memabukkan ia mengarahkan kedua telunjuknya
ke wajahku: Akan kami mainkan La Vie en Rose, khusus untukmu!

Ah, Bénko, Bénko, telah kau undang Edith Piaf sendiri
duduk di sampingku dan bernyanyi

Kesedihan jiwa dan hati yang pilu cuma kilat kecemasan masa lalu
di usia lebih lima puluh tahun kelompok musik jazzmu

Tiada yang dapat menghentikan lagu dan puisi malam itu
tiada yang dapat menghentikan Sándor Bénko malam itu

ii: carmen dan tosca

Tosca dan Carmen pun bertemu di panggung opera
dalam kilau hijau kerudung dan blus merah yang menyala

Duduk di samping perempuan jangkung Belanda
kukenang nasib kuli kontrak dan korban tanam paksa

Di Batavia silam, pikiran para gubernur jenderal
Hindia Belanda tak pernah lebih luas dari rumah bola

Ketamakan tiga setengah abad gulden dan rempah-rempah
telah mengaramkan bumi putera ke dasar samudera

Pada setiap kesempatan jeda, kuundang perempuan jangkung itu
melihat jejak kolonialisme dari Aceh hingga Papua

Menghitung hutang yang diwariskan Konferensi Meja Bundar
menghapal nama Soekarno, Syahrir, dan Hatta

Dan menjadi turis yang menghirup kemewahan secangkir kopi
para amtenar dan tuan tanah di selasar sebuah hotel di jalan Braga

Tosca dan Carmen pun bertemu di panggung opera
Bizet dan Puccini menyanyikan lagu Indonesia Raya

iii: duna

Selalu kuurungkan niatku menulis ode bagi Duna
setiap kali teringat József Attila di tepi sungai yang sama

Membuka kotak pandora kemurungan dengan kedua telapak tangannya
dan menanggung semua beban dan sejarah duka Hongaria

iv: bombay express

Karena di masa silam Zeus menculik Eropa dari Asia
di Jalan Andrassy orang-orang antri makan siang di restoran India

Akan kau temukan semua jenis bumbu dan lemak ayam
pada setiap piring kebab dan beryani yang kau pesan

Matamu akan dimanjakan poster Amitab Bachan
dan telingamu dibuai denting petikan sitar

Lupakan sejenak Gandhi yang miskin
sebab kau harus membayar dengan forint

v: sex shops

Tidak ada tanda larangan masuk bagi orang Indonesia
dari mana pun asal suku dan secoklat apa pun warna kulitnya

vi: topless show

Maaf, sir, Anda datang terlalu dini
bertandanglah satu jam lagi

Kami mulai buka pukul sembilan
namun, jika boleh kami memberi saran

Akan lebih nikmat jika Anda kembali
ke tempat ini menjelang dini hari

vii: escort

Anda orang aneh pertama dalam karir saya
masih percaya bahwa kemurnian cinta

Dan bukan harga yang telah saya tentukan
menjadi dasar hubungan lelaki dan perempuan

Penyair, naga-naga telah lama musnah
tidak ada puteri raja yang perlu diselamatkan

Seperti seorang kesatria dari Negeri Dingin
berabad-abad Anda telah bertempur dengan kincir angin

Puisi telah menjadi candu pikiran Anda
itu sebabnya Anda ketuk pintu rumah yang salah

viii: indonez kretek ház

Kau hampir lulus dari semua godaan
dan setelah meletakkan dua koin forint

Di atas kelopak matamu, János si Tukang Perahu
ke Negeri Bahagia akan menyeberangkan kaku tubuhmu

Namun, masih ada satu kelemahan yang menahanmu
dan mungkin akan menghambat perjalanan terakhirmu:

Kau tak bisa bertahan tanpa itu barang sialan
lebih dari dua puluh empat jam!

Untunglah lisong bagimu bukan Tuhan
dan tak pernah kau ukur dan kau pikirkan

Berapa senti panjangnya kretek Indonesia
apakah enam, tujuh, delapan, atau sembilan?

Karena János si Tukang Perahu juga menghisap cerutu
akan tetap ia seberangkan kaku tubuhmu

ix: dorá

Cuma ada satu kata: Dorá!
dan cuma ada satu Dorá

Ia selalu tersenyum kepadamu di sudut gedung opera
ia membantumu mencari waldesrauschen bersembunyi
ia kepadamu mungkin telah jatuh hati
ia menerima gantungan kunci dari Praha menjelang malam hari
ia memerah bagai salmon dan merajuk: why me?
ia berkata kau dalam masalah besar
ia bergurau kau seperti singa yang lapar
ia telah membuat hatimu patah
ia mungkin telah kau buat patah
ia yang kau cari selama tiga hari terakhirmu di negeri Petőfi
ia mungkin yang menelefonmu suatu siang dan suaranya tak kau kenal lagi
ia yang kau dengar dalam semua opera Puccini
ia yang kau ingat di bandara Ferihegy
ia yang kau lihat di wajah para pramugari
ia yang kau kenang kini

Cuma ada satu kata: Dorá!
dan cuma ada satu Dorá

x: nyonya ándreá

Malam ini Anda akan menjadi orang paling bahagia
suamiku Bénko baru saja mengenalkan Anda

Sebagai Petőfi dari Indonesia. Masih Anda dengar bukan
semua pengunjung di pub ini bertepuk tangan?

Malam jazz, malam terakhir di Budapest,
malam dixieland, malam seribu impian

Budapest-Amsterdam, 2009

Cecep Syamsul Hari lahir di Bandung, 1 Mei 1967. Penyair, penerjemah, dan redaktur majalah sastra HORISON. Selain puisi, ia menulis cerpen, novel, esai. Mempublikasikan kumpulan puisi: Efrosina (2002/2005), 21 Love Poems Bilingual Edition (2006/2009), Two Seasons Bilingual Edition (2007), Rimbun Dahan Bilingual Edition (2009), Perahu Berlayar Sampai Bintang (2009).

Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Korea, Bengali, Ceko, Hongaria, dan dipublikasikan dalam sejumlah antologi dan jurnal internasional, antara lain: Heat Literary International (Sydney, Australia, 1999), Beth E. Kolko, et.al., Writing in an Electronic World: a Rhetoric with Readings (United States: Longman, 2000); Harry Aveling, Secrets Need Words: Indonesian Poetry 1966-1998 (United States: Ohio University Press, 2001); Wasafiri Literary Magazine (London, 2003); Orientierungen (Bonn: 2/2006); Tina Chang, et.al., Language for A New Century: Contemporary Poetry from the Middle East, Asia, and Beyond (New York: W.W. Norton & Company, 2008); Hadaa Sendoo, World Poetry Almanac 2008, (Ulaanbaatar: World Poetry Almanac, 2008); PLAV Literary Magazine (Praha, 2010).

Ia diundang tinggal di Korea Selatan (2006), Malaysia (2007-2008), Hongaria (2009), Australia (2009) sebagai writer in residence.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s