Apresiasi

Ni Sang Pejuang

Sebuah Ulasan Novel Canting Karya Arswendo Atmowoloto

Oleh Eka Emilia, Siswa SMAN 7 Malang

            Indonesia adalah salah satu Negara yang memiliki seribu satu macam kebudayaan. Salah satu kebudayaan Indonesia yang paling tersohor adalah kebudayaan Jawa. Kebudayaan Jawa merupakan salah satu jenis kebudayaan yang mementingkan tingkah laku dan kesopanan pada orang lain. Selain mengajarkan tata krama kepada anak-anaknya, orang-orang Jawa juga menuangkan identitas kebudayaan mereka melalui sehelai kain yang mereka sebut dengan kain batik. Dewasa ini, kain batik telah digunakan sebagai identitas Bangsa Indonesia, dan kain batik Indonesia telah terkenal di hampir semua Negara di dunia.

Di zaman globalisasi ini, kebudayaan Jawa mulai tergerus oleh zaman dan kebudayaan-kebudayaan lain dari luar Indonesia. Namun, masih ada pula beberapa orang yang mau berjuang untuk mempertahankan keeksistensian budaya Jawa. Orang-orang yang masih setia menjaga keeksistensian budaya Jawa salah satunya adalah keluarga Raden Ngabean Sestrokusuma atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Bei, seorang pemilik perusahaan batik Cap Canting yang sangat terkenal di kota Solo. Istrinya, yang bernama Tuginem atau yang biasa dipanggil Bu Bei, bertugas untuk menjual kain batik hasil cetakan pabrik Cap Canting di Pasar Klewer. Pasar Klewer merupakan pusat perekonomian bagi warga Solo, serta merupakan salah satu pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara. Bu Bei telah berjualan di pasar tersebut sejak mertua wanitanya meninggal dunia.

Pasangan Pak Bei dan Bu Bei ini dikaruniai enam orang putra dan putri. Anak pertama dan ketiga mereka yang bernama Wahyu Dewabrata dan Bayu Dewasunu berprofesi sebagai seorang dokter. Anak kedua mereka bernama Lintang Dewanti, telah menikah dengan seorang kolonel yang bertugas di Biak, Papua. Sedangkan, anak mereka yang keempat, Ismaya Dewakusuma berprofesi sebagai seorang insinyur, dan Ismayalah satu-satunya anggota keluarga Sestrokusuma yang menikah di Gereja serta memiliki nama baptis Felix. Anak kelima pasangan ini bernama Wening Dewamurti, berprofesi sebagai seorang pengusaha yang bergerak di bidang kontraktor. Putri bungsu mereka bernama Subandini Dewaputri Sestrokusuma atau yang biasa dipanggil dengan nama Ni, merupakan seorang sarjana farmasi lulusan dari salah satu Universitas di kota Semarang.

Pada Waktu Bu Bei tengah mengandung Ni, Pak Bei sempat meragukan apakah Ni memang benar-benar anak kandungnya. Pak Bei mengira bahwa, Ni adalah anak dari salah satu buruh batiknya. Tapi, setelah Ni lahir keraguan itu pun sirna. Pak Bei percaya bahwa Ni memanglah anak kandungnya. Pak Bei menyayangi Ni melebihi kakak-kakaknya. Ni kecil sangat menyenangi hal-hal yang berhubungan dengan batik. Tetapi, apabila Ni kecil mulai memegang canting, Bu Bei akan langsung memarahi dan memukul tangannya. Bu Bei takut, jika melihat Ni kecil membatik, keraguan Pak Bei akan muncul kembali. Oleh karena itu, pada saat Ni lulus SMA, Bu Bei mendaftarkannya di salah satu Universitas di Semarang, dengan harapan Ni akan melupakan batik dan menekuni dunia barunya.

Saat Pak Bei berulang tahun yang ke-64, semua anak Pak Bei diminta untuk berkumpul di Ndalem Sestrokusuma di daerah Keraton Solo. Hanya Ni, yang saat itu datang terlambat menghadiri acara perayaan ulang tahun Pak Bei tersebut. Di acara itu pula, Ni menyampaikan maksudnya untuk melanjutkan usaha batik Cap Canting yang telah lama tergusur oleh kehadiran batik printing. Mendengar hal itu, seluruh anggota keluarga Sestrokusuma sontak  menjadi kaget. Tekanan darah dan kadar gula Bu Bei menjadi tinggi. Bu Bei pun segera dilarikan ke rumah sakit oleh anak-anaknya. Hanya Ni saja yang tidak boleh ikut menemani Bu Bei. Karena Ni yang dianggap menjadi penyebab tumbangnya Bu Bei. Namun, sekuat apapun perjuangan para dokter di rumah sakit untuk menyelamatkan Bu Bei, nyawa Bu Bei tetap tidak tertolong.

Selepas kepergian Bu Bei, Pak Bei memilih untuk tinggal bersama anak-anaknya secara bergiliran. Pak Bei pun mengijinkan Ni untuk melaksanakan niatnya melanjutkan usaha batik Cap Canting. Awalnya, usaha Ni mendapatkan banyak sekali hambatan. Ni harus mengumpulkan kembali karyawan-karyawan yang dulu bekerja di pabrik batik ayahnya. Selain itu, ternyata batik printing telah  menjadi pilihan utama bagi para konsumen di Pasar Klewer. Tidak mudah bagi Ni untuk mengambil alih hati para konsumen tersebut. Semua motif baru yang dikeluarkan oleh pabrik Cap Canting milik Ni, dengan mudah dapat dicontoh oleh pabrik batik printing. Hambatan lain juga datang dari salah satu kakak iparnya. Istri Wahyu Dewabrata, seringkali membicarakan hal yang buruk dibelakang Ni. Dia merasa, dirinyalah yang berhak untuk melanjutkan usaha batik tersebut, karena dia lebih mengetahui banyak hal mengenai batik daripada Ni. Hambatan-hambatan itu hampir saja membuat Ni putus asa, namun Ni dapat bangkit kembali berkat dukungan dari Pak Bei dan Himawan, tunangannya. Pada akhirnya, Ni memutuskan untuk tidak memasang label pada kain batik hasil pabriknya. Dia menyerahkan kain hasil pabriknya kepada pabrik yang lebih besar untuk diolah dan dijual kembali dengan cap dari pabrik tersebut. Ni juga memutuskan untuk menikah dengan Himawan dan memperoleh seorang anak yang diberi nama Canting Daryono. Ni adalah satu-satunya generasi Pak Bei yang berani untuk tampil beda dan juga berani untuk mengambil alih usaha batik milik keluarganya. Ni adalah satu-satunya “pejuang” bagi keluarga Sestrokusuma untuk mempertahankan budaya keluarga.

Novel karangan Arswendo Atmowiloto ini menyadarkan masyarakat Indonesia untuk tetap berjuang mempertahankan kebudayaan yang dimiliki. Dapat dilihat di zaman sekarang, banyak dari generasi-generasi muda Indonesia, merasa malu untuk menunjukan identitas mereka sebagai Bangsa Indonesia. Mereka lebih memilih menunjukan identitas budaya dari Negara lain. Contoh yang paling nyata, sebagian besar remaja Indonesia lebih memilih berpakaian seperti artis-artis Korea daripada memakai pakaian batik. Hal ini, dapat membuktikan bahwa masyarakat Indonesia telah terjajah oleh budaya asing. Tanpa mereka sadari, mereka telah “dipaksa” untuk mencintai budaya bangsa lain dan membenci budaya bangsa mereka sendiri.

Ni digambarkan sebagai seorang gadis pintar, tegas, pantang menyerah, dan tidak pernah merasa malu untuk kembali menghidupkan budaya Indonesia dalam hal ini adalah batik. Ni tetap berusaha agar usaha batik keluarganya dapat tetap berdiri di tengah ancaman kehadiran perusahaan batik printing. Sikap pantang menyerah Ni inilah yang harusnya menjadi panutan bagi masyarakat Indonesia, agar mampu menghidupkan budaya-budaya Indonesia yang telah “mati” dan tergusur oleh budaya lain.

Dalam novel ini, pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Pengarang membiarkan pembaca untuk terlibat secara langsung di dalam alur cerita. Hal ini, dimaksudkan oleh pengarang, agar pembaca dapat lebih memahami isi cerita dan pembaca juga dapat mengambil pelajaran positif dari sikap dan karakter tokoh. Hanya saja, pengarang kurang dapat menjelaskan karakter tokoh secara detail dan baik. Sehingga, ada beberapa tokoh yang tidak dapat dilihat dan dimengerti karakternya.

Pengarang memilih menggunakan alur campuran, yaitu alur maju dan alur mundur (flashback). Alur campuran seperti ini memiliki keunggulan, tetapi juga memiliki kekurangan. Keunggulan dari penggunaan alur ini adalah, pembaca tidak hanya dapat mengetahui kehidupan yang dijalani tokoh saat ini dan masa depan saja, tetapi pembaca juga dapat mengetahui kehidupan yang dijalani tokoh di masa lalu. Sedangkan, kekurangannya adalah membuat cerita semakin rumit, dan membuat pembaca akan sulit untuk memahami cerita dalam novel ini.  Apabila pengarang tetap ingin menggunakan alur campuran, seharusnya jangan digunakan secara bersamaan. Tetapi, pengarang dapat menggunakan alur maju di awal cerita dan alur mundur atau flashback di akhir cerita.

Dalam menggambarkan watak dan karakter tokoh, pengarang menggunakan dua cara, yaitu melalui dialog antara tokoh utama dengan tokoh lain dan melalui penjelasan dari tokoh lain. Hal tersebut dimaksudkan agar pembaca lebih mudah menganalisis watak dan karakter tokoh. Dalam novel ini, pengarang menggunakan bahasa yang sulit untuk dipahami. Bahasa yang digunakan terlalu formal serta dalam beberapa dialog pengarang menggunakan Bahasa Jawa. Padahal, remaja-remaja Indonesia saat ini kurang mengerti kata-kata yang menggunakan Bahasa Jawa. Hal tersebut semakin menyulitkan pembaca untuk memahami isi cerita.

Nilai-nilai sastra yang dapat diambil dalam novel ini antara lain, nilai budaya, nilai etika dan nilai sosial. Nilai budaya dapat terlihat dari sikap keluarga Sestrokusuma yang masih menjunjung tinggi kebudayaan Jawa, walaupun banyak orang lain yang meninggalkan kebudayaan tersebut. Nilai Etika dapat terlihat melalui cara keluarga Sestrokusuma dalam memperlakukan dan menghormati orang lain. Sedangkan, nilai sosial dapat terlihat dari sikap Bu Bei yang mau menengok salah satu buruhnya yang melahirkan. Nilai-nilai yang ada tersebut, dapat menjadi sebuah motivasi bagi para pembaca untuk mencontoh dan menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Walaupun, di dalam novel ini terdapat beberapa potongan tindakan yang bertolak belakang dengan norma yang berlaku, tetapi hal itu tidak mengurangi nilai-nilai positif yang dapat diambil dan kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Novel ini merupakan salah satu novel sastra bermutu yang dihasilkan dari buah pikiran anak Negeri. Novel ini mengajarkan kepada rakyat Indonesia untuk tidak malu dalam menunjukkan identitas budaya Indonesia. Selain itu, novel ini juga memberikan semangat bagi para remaja, agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi hambatan-hambatan yang ada di hadapan mereka. Walaupun, novel ini memiliki banyak kekurangan, seperti penggunaan bahasa yang terlalu formal, alur yang rumit, adegan-adegan yang “tidak pantas” , dan akhir cerita yang menggantung , tetapi secara kesuluruhan novel ini merupakan novel yang pantas untuk dibaca dan dijadikan pedoman dalam bertindak. Novel ini, hanya dapat dibaca oleh remaja dan orang dewasa saja, karena pemikiran mereka jauh lebih matang dibandingkan dengan pemikiran anak-anak kecil.

Melawan penjajah tidak hanya dengan senjata saja. Tetapi, melawan penjajah juga dapat menggunakan tindakan yang tidak mengandalkan kekuatan senjata. Karena, penjajah tidak hanya dapat diartikan sebagai pendudukan wilayah oleh Negara lain, melainkan penjajah juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang meracuni hati dan pikiran kita. Jadi, selama kita dapat mengendalikan hati dan pikiran kita agar tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif, maka kita dapat diartikan telah mampu mengalahkan penjajah tersebut. Novel inilah yang menjadi salah satu buktinya.

————————————————

Lirik Lagu Saat Terakhir ST 12, Lirik Lagu Ibu Karya Iwan Fals, Puisi Berwudlu Air Murni karya Emha Ainun Najib, Naskah Drama Atas Nama Cinta Karya Agus R. Sarjono.

(Kami menunggu karya Bapak/Ibu/Saudara….)

A. Apresiasi I

Corak Romantis-Realistis
Lirik Lagu Saat Terakhir ST 12
Berdasarkan Tinjauan Diksi

Naskah ditulis oleh:
Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
SMA Negeri 7 Malang

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, romantis adalah sifat mesra dalam percintaan, mengutamakan perasaan, dan sentimen idealisme. Sedangkan realisistis adalah sifat wajar dalam perasaan, pikiran, dan tindakan. Diksi berarti pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Dalam hal lirik lagu, efek yang dimaksud adalah efek estetis dan puitis karena lirik lagu ditinjau dari genre sastra termasuk jenis puisi.

Tidak seperti romantisme biasa yang cenderung berlebihan dalam mengekspresikan perasaan, pikiran, dan tindakan, lirik lagu Saat Terakhir ST 12 berada di antara romantis dan realistis. Estetika bahasa tercipta dengan pemakaian diksi yang sederhana dan wajar tanpa menggunakan idiom-idiom yang klise dan cenderung “berbunga-bunga”.
Ada ”tenaga dalam” yang dapat menebarkan efek estetis dan puitis, serta melibatkan emosi pendengar atau pembaca liriknya.

Diksi lirik lagu Saat Terakhir ST 12 memegang peranan penting dalam memunculkan kekuatan-kekuatan estetis, baik secara fisik semisal unsur bunyi (musikalitas), keunikan komposisi, maupun secara nonfisik seperti picuan asosiasi makna yang terbangkit dalam benak dan hati pembaca, getar emosi tertentu atau bahkan debar spiritual yang tak terjelaskan yang dirasakan oleh seseorang ketika mendengar atau membaca liriknya.

Setiap kata, frasa, bahkan larik Saat Terakhir hadir dengan alasan yang lebih kuat daripada sekedar untuk dekorasi semata. Diksi yang dipilih mampu menimbulkan efek estetis sehingga mampu memicu syaraf-syaraf puitik pembaca. Kata-katanya bernas, telak, sekaligus enak didengar dan membekas dalam benak pembaca. Membekasnya sebuah ucapan dalam lirik lagu ini bisa jadi karena idiom tersebut memiliki asosiasi tertentu yang membangkitkan emosi tertentu dalam diri pembaca. Bisa juga karena mengingatkannya pada pengalaman pribadi, atau karena memiliki keunikan tersendiri baik dalam hal bentuk atau bunyinya.

Akulirik (pencipta lirik) tidak pernah berpikir tentang perpisahan, bahkan bayangan itu tak sedikitpun melintas dalam benaknya. Bayangan tentang kesendirian karena ditinggal pergi oleh seseorang.

/Tak pernah terpikir olehku/
/Tak sedikitpun ku bayangkan/
/Kau akan pergi tinggalkan kusendiri/

Kepergian seseorang yang akan meninggalkan dirinya begitu sulit ia percaya. Sangat menyakitkan. Dan membuatnya merasa sendiri, tak ada lagi yang berarti.

/Begitu sulit kubayangkan/
/Begitu sakit ku rasakan/
/Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri/

Kenyataan inilah yang harus dipercaya. Bahwa kekasih telah pergi tak kembali. Bersandar dalam kehidupan yang hakiki, ketika jiwa bermuara dalam pusaran keeabadian. Kekasih setia, yang telah memberikan cinta tulus telah tiada. Ia tidak sanggup, tidak mampu menerima kenyataan ini. Cinta kasihnya telah dibawa pergi.

/Dibawah batu nisan kini/
/Kau tlah sandarkan/
/Kasih sayang kamu begitu dalam/
/sungguh ku tak sanggup Ini terjadi/
/karna ku sangat cinta/

Saat kematian itulah terakhir kali ia melihat jasad kekasihnya. Duka mendalam
membuatnya menangis pilu. Jiwa raga terasa luluh, dada hampa dari rasa.Tak mampu ia berkata selain ”Selamat jalan kasih…”.

/Inilah saat terakhirku melihat kamu/
/Jatuh air mataku menangis pilu/
/Hanya mampu ucapkan/
/Selamat jalan kasih/

Dalam kondisi emosi yang labil, pikiran akulirik flash back mengenang awal percintaanya. Dia bisa mencintai kekasihnya hanya dalam tempo satu jam sejak perkenalan.Hal itu membuktikan betapa sang kekasih memiliki kelebihan, keunikan, atau hal lain yang memikat hatinya. Dalam sekejap (satu jam) saja telah membuat orang mencintainya. Namun untuk melupakannya membutuhkan waktu seumur hidup. Ini berarti dia tidak sanggup melupakannya seumur hidup, dalam penantian panjang yang tidak berujung. Kepergiannya tak tergantikan oleh apa pun, oleh siapa pun. Hanya kematian pula yang mampu menghilangkan memori tentangnya.

/Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu;kamu;kamu di hatiku/
/Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup/
/Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu… di hatiku/
/Namun bagiku melupaknmu butuh waktuku seumur hidup/
/di nantiku/

Berikut lirik Saat Terakhir ST 12 selengkapnya:

Saat Terakhir
ST 12

Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikitpun ku menyangka
Kau akan pergi tinggalkan kusendiri

Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri

Dibawah batu nisan kini
Kau tlah sandarkan
Kasih sayang kamu begitu dalam
sungguh ku tak sanggup Ini terjadi
karna ku sangat cinta

Inilah saat terakhirku melihat kamu
Jatuh air mataku menangis pilu
Hanya mampu ucapkan
Selamat jalan kasih

Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu;kamu;kamu di hatiku
Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup

Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu… di hatiku
Namun bagiku melupaknmu butuh

***********************************************************

B. Apresiasi II

PUISI

Berwudlu Air Murni
Karya Emha Ainun Najib

Sebuah Tinjauan Semantis

Oleh Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
SMA Negeri 7 Malang

Karya sastra sebagai hasil peristiwa seni yang estetis pada hakikatnya berfungsi sebagai media yang menyenangkan dan berguna. Melalui karya sastra, seseorang dapat memperoleh kesenangan dan bermacam-macam pandangan filsafat, agama, serta cara pandang terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Dengan adanya korelasi antara sastra dan religiusitas maka lahirlah sastra transendental, yaitu sastra yang membebaskan diri dari aktualitas indrawi manusia. Sastra transendental memasuki dunia hakikat untuk menguak fenomena yang bersemayam di balik realita dan membumikan ayat – ayat illahiyah untuk menembus dimensi material dalam susunan kosmos kemanusiaan.

Karya sastra (dalam hal ini puisi konvensional) merupakan ekspresi jiwa dan perasaan yang terlahir dari korelasi vertikal dan horisontal dalam kehidupan penyair. Dalam perspektif Emha Ainun Najib, untuk membedakan antara sastra religius dan tidak, cukup dengan satu pertanyaan: Apakah menemukan keagungan Tuhan dan menuju kepada Tuhan atau tidak?

Emha Ainun Najib (penyair yang berpandangan ”mbanyu mili” di sungai Allah), mengisyaratkan tentang keikhlasan dan ketaatan pemeluk Islam menjalankan ibadah shalat. Keikhlasan untuk mendapat ridho Allah swt. Agar suatu saat nanti dapat menyatu dengan Rosulullah saw dengan kedamaian hakiki dalam telaga Haudl, Al-Kautsar, dan diakui sebagai umatnya.

Wudlu (dalam konteks puisi ini) merupakan bentuk pensucian diri sebelum melakukan shalat.

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Al Maa’idah: 6)

Ibarat cermin, sholat dapat merefleksikan satu objek menjadi dua arah pantulan. Satu sisi merupakan pantulan duniawi dan sisi yang lain pantulan ukhrowi. Dengan sholat manusia menjadi insan yang bermutu secara mental dan fisik, dengan sholat juga manusia mendapatkan cinta Rosul dan rahmat Illahi.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Quran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(Al ‘Ankabuut:45)

Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (An Nisaa’:162)

Dalam puisi ” Berwudlu Air Murni”, penyair menghadirkan pencitraan visual dan gerak untuk memberi efek konkret pada larik-lariknya. Pencitraan (imajery) tersebut juga ”menghidupkan” setiap peristiwa yang terungkap dalam kata-kata. Betapa mesranya antara umat – Rosul – dalam kenikmatan sebagai buah yang dipetiknya dari pohon ibadah.

Berikut teks puisi secara lengkap:

Berwudlu Air Murni

Telaga Haudl
Al-Kautsar tercinta
Tempat perjanjian
Muhammad dengan kita
Memadu kasih mesra

Siapa kita siapa bukan kita
Bagaimana Sang Nabi membedakannya?
”O, amatlah mudahnya!” beliau berkata
”Dari wajah kalian memancar cahaya
Berkat wudlu dan sujud yang mengkesima”

Sujud kerendahan kepada kemahatinggian
Sujud ke tanah
Debu menempel di kening
Segala kotoran sirna diserapnya

Berwudlu air murni
Dari hari ke hari
Membasuh kepalsuan
Dengan kesejatian
Mencuci luka di kolam Tuhan

Telaga haudl
Al-Kautsar tercinta
Kita peluk Muhammad tanpa sia
Di air bening telaga
Ma’rifat segala-galanya.

*****************************************************
C. Apresiasi III

Gaya Bahasa dalam Lirik Lagu “Ibu” Karya Iwan Fals

Oleh Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
SMA Negeri 7 Malang

1. Metafora

Gaya bahasa perumpamaan langsung tanpa menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dsb. untuk mengungkapkan pencitraan tertentu.
Dalam menjalani kodrat dan tanggung jawab terhadap anak, seorang ibu diumpamakan menempuh perjalanan ribuan kilo meter jauhnya. Pada kenyataannya bahkan lebih, seandainya setiap langkah ibu dihitung dan diukur. Apalagi dalam lirik ini tokoh Ibu digambarkan sebagai sosok sederhana, pekerja keras, menderita, dan tergolong multiproblem.

/Ribuan kilo jalan yang kau tempuh/

Perjalanan hidup ibu tidaklah mulus tanpa hambatan. Kesulitan dan penderitaannya dimetaforkan dengan rintangan, yaitu sesuatu yang menghalangi, mengganggu, mengusik, atau menghadang sehingga menghambat kelancaran perjalanan. Semua dilewati demi anak, demi kesehatannya, kebahagiaannya, pendidikannya, dan keberhasilannya. Ibu rela berkorban, mengorbankan kepentingannya, bersedia menderita demi kebahagiaan anaknya.

/Lewati rintangan untuk aku anakmu/

Walaupun rintangan mengahadang, kesulitan hidup tak terelakkan, Ibu pantang putus asa menjalani kehidupannya, terus berjalan.

/Ibuku sayang masih terus berjalan/

2. Hiperbola

Gaya bahasa yang menggunakan pernyataan dibesar- besarkan, baik jumlah,ukuran maupun sifatnya, dengan maksud memberi penekanan intensitas.
Guna memberi penekanan betapa besar perjuangan dan penderitaan Ibu, penulis menggunakan perumpamaan telapak kaki berdarah dan bernanah. Dan Ibu tetap menjalaninya.

/Ibuku sayang masih terus berjalan/
/Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah/

3. Simile

Gaya bahasa perumpamaan yang menggunakan kata seperti, laksana, bagaikan, dan sejenisnya, untuk membandingkan antara objek yang digambarkan dengan pilihan kata yang digunakan.
Kasih sayang Ibu yang diberikan kepada anaknya digambarkan seperti udara, dibutuhkan, esensial, vital, banyak tak terbatas, dan tanpa bayar. Tak ada seorangpun yang sanggup membayar, membalas, atau mengganti kasih sayang Ibu.

/Seperti udara… kasih yang engkau berikan/
/Tak mampu ku membalas…ibu…ibu/

Ada imaji visual bahwa dalam konteks ini Ibu dan anak terpisah jarak. Ada kerinduan, perasaan yang tak terperi, sehingga anak ingin dekat dan menangis di pangkuan Ibu. Sampai tertidur, bagai masa kecil yang indah dan damai.

/Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu/
/Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu/

Setiap kata dan nyanyian Ibu adalah doa yang terindah untuk anaknya. Bagai obat luar yang membalur tubuh. Bagai selimut hangat yang meninabobokan.

/Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku/
/Dengan apa membalas…ibu…ibu…./

Setiap desahan nafas, sepanjang hayat, doa dan kasih sayang Ibu menebar seperti udara ke seluruh atmosfer kehidupan bahkan sampai ke alam baka. Tak ada yang mampu membalas kasih sayang Ibu.

/Seperti udara… kasih yang engkau berikan/
/Tak mampu ku membalas…ibu…ibu/

Berikut teks lagu Ibu karya Iwan Fals

Ibu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas…ibu…ibu….

Seperti udara… kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

*****************************************************

D. Apresiasi IV

Atas Nama Cinta:
Ironi Kehidupan dalam Naskah Drama Karya Agus R. Sarjono

Oleh Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia
SMA Negeri 7 Malang

(Tulisan ini pernah dikirim ke Jakarta dalam acara LMKS)

Kenangan tentang Agus R. Sarjono 8 tahun yang lalu. Pada waktu itu saya menyambut rombongan sastrawan Indonesia yang tergabung dalam acara SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) di SMA Negeri 1 Pamekasan. Di tengah acara, Mas Joni Ariadinata membaca puisi berjudul Sajak Palsu karya Agus R. Sarjono. Puisi tersebut menggores-gores hati saya sebagai guru. Ini pelecehan profesi. Hati saya merasa pedih jika ada yang menghina guru. Apakah semua kebaikan telah tertutup keburukan? Guru-guru yang baik tidak tampak dan yang ada hanya guru-guru palsu? Kisah dalam Sajak tersebut dimulai dengan sapa dan perhatian palsu yang diberikan murid kepada guru. Guru memberikan nilai palsu kepada murid, sehingga kelak lahirlah birokrat palsu, arsitek palsu, dan semua yang ada dalam kehidupan adalah palsu. Semua berakar dari guru palsu. Komedi yang menyakiti hati. Sejak saat itu nama Agus R. Sarjono tak lekang dalam ingatan saya. Dan puisi tersebut seolah menghantui saya. Akhirnya, saya semakin termotivasi untuk membersihkan citra guru sebagai pahlawan pendidikan. Saya sering membacakan atau mengulas Sajak Palsu dengan tujuan supaya semua pihak melakukan introspeksi diri. Ternyata tajam dan pedasnya kritik Agus R. Sarjono yang dikemas dalam karya yang lucu tidak hanya Sajak Palsu tetapi juga karya-karyanya yang lain termasuk Atas Nama Cinta ini, sebuah ironi dalam naskah drama.

Agus R. Sarjono membagi naskah drama Atas Nama Cinta menjadi lima babak. Babak 1 Cinta-Cintaan, Babak 2 Rapat-Rapatan, Babak 3 Ciung Wanara, Babak 4 Satria Baju Putih, dan Babak 5 Ini Baru Cinta. Babak-babak dalam kisah ini bukanlah suatu kotak yang memisahkan antara cerita satu dengan cerita lainya, melainkan penanda munculnya sekuen lain yang lebih berkembang. Cerita antarbabak dihubungkan secara koheren melalui tokoh dan rangkaian cerita. Bagaikan pelari estafet, tokoh datang dan pergi secara berkesinambungan. Bahkan sebagian besar tokoh-tokoh tersebut adalah orang yang sama, yaitu para demonstran yang menyampaikan aspirasinya dalam bentuk drama. Dalam drama yang ditampilkan sebagai media berdemonstrasi, para demonstran memerankan tokoh-tokoh: Ciung Wanara, Prabu Barma Wijaya Kusumah, penonton, pendemo, Satria Baju Putih, pengawal, Wartawan, dan sebagainya sampai Jenderal, dan Serdadu.

ironi kehidupan disampaikan Agus R. Sarjono melalui kisah-kisah dalam lelucon yang kadang terasa kecut dan menjengkelkan. Gaya bahasa naturalis mencerminkan isi hati dan pikiran pengarang yang tidak bersimpati kepada trend hidup masa kini, khususnya sifat dan tabiat para politikus dan penguasa di negeri ini.
Dalam tiap-tiap sekuen yang sederhana tersebut disuntikkan kritikan-kritikan Agus R. Sarjono yang tajam dan kompleks. Anggapan remeh oleh sebagian orang tentang cinta dan kasih sayang yang universal menyebabkan tumbuhnya kekerasan. Hati manusia menjadi keras dan kasar, bahkan bengis dan arogan. Manusia cenderung saling menjegal, mendorong, dan menyakiti yang lain demi tercapainya obsesi.
Sepasang kekasih, tokoh Lelaki dan Perempuan dalam Babak 1 Cinta-Cintaan adalah metafor dari masyarakat yang menjalani hidup damai dan penuh kasih sayang. Demonstran membubarkan paksa Lelaki dan Perempuan tersebut dengan kekerasan. Para demonstran merupakan lambang dari kelompok tertentu yang memperjuangkan ambisinya dengan mengatasnamakan kepentingan masyarakat
sehingga dapat menguasai panggung. Dan panggung sebagai simbol suatu negara atau kekuasaan. Dalam dialog antarpelaku tampak sinisme dan sarkasme verbal dilontarkan untuk menghujat perpolitikan yang menjurus pada ”bagaimana cara mencapai sesuatu dengan menghalalkan segala cara”. Seperti pernyataan berikut: Kita tidak peduli apakah kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.

Melalui dialog para demonstran yang menamakan dirinya aktivis gerakan politik tersebut disinggung pula masalah penculikan, pengkarungan, militerisme, premanisme, intimidasi, gas air mata, main pokrol, tirani mayoritas terhadap minoritas, kapitalisme, korupsi, kolusi, nepotisme, uang komisi, dan istilah-istilah pedas lain yang mewarnai panggung politik, kekuasaan, dan kehidupan manusia masa kini.
Ketika telah menguasai panggung, para demonstran melakukan rapat dalam
Babak 2 Rapat-Rapatan. Tidak mudah untuk mufakat walaupun mereka yang sedang rapat berasal dari satu kelompok. Itu pula rupanya yang terjadi di negeri ini. Para demonstran melakukan rapat untuk menentukan lakon yang ingin dimainkan sebagai aksi demo penggugah semangat nasionalisme masyarakat terhadap kondisi negara yang sedang gawat karena krisis multidimensi.

Rapat berjalan alot dan seret. Bermacam-macam judul lakon ditawarkan. Setiap orang mempunyai ide lakon yang masing-masing ingin ditampilkan. Lakon Romeo dan Juliet ditolak karena cengeng. Hikayat Perang Sabil terlalu agamis, kedaerahan, dan tidak membakar semangat secara nasional. Pan Balangtamak atau Si Kabayan mengajari orang menjadi bodoh dan malas yang hanya mengandalkan keberuntungan. Si Kancil merupakan kitab pelajaran untuk menjadi koruptor dan pencuri yang dimuliakan, lempar batu sembunyi tangan. Sampai terjadi perdebatan dan saling mencaci antarpeserta rapat.
Kenyataan seperti itu digunakan pengarang untuk mengritik kelompok tersebut dengan pernyataan: Itu akibatnya kalau terlalu banyak melototin politik sama ekonomi dan buta sama budaya. Walaupun dikasi kekuasaan setinggi gunung dan duit segerobak, tetap saja sampainya cuma ke perut dan sekitarnya, orang budayanya cuma sampai dengkul. Bagaimana bisa bangun jiwanya…
Akhirnya mereka sepakat dengan lakon Ciung Wanara karena mengandung suksesi dan ada perlawanan terhadap kerajaan. Aspirasi mereka diwakili oleh Ciung Wanara, sosok dari kalangan rakyat jelata yang menantang raja dan merebut kekuasaan. Para demonstran sesungguhnya menggambarkan seorang hipokrit, munafik terhadap dirinya sendiri dan bangsa. Mereka berdemo yang katanya untuk mengobarkan semangat nasionalisme demi bangsa dan negara ternyata bertendensi. Ada misi penggulingan kekuasaan yang telah direncanakan. Mereka dapat mengkritik orang lain tetapi dirinya sendiri mengkhianati bangsa dan main akal-akalan terhadap masyarakat. Mereka menyerukan kedamaian dan nasionalime tetapi menyakiti dan berlaku arogan kepada orang lain demi tercapai tujuan kelompoknya.

Disepakatinya pementasan lakon Ciung Wanara merupakan jembatan menuju
Babak 3 Ciung wanara. Singkat cerita, Prabu Barma Wijaya Kusumah mengadu ayam jagonya dengan ayam jago Ciung Wanara. Jika Ciung Wanara kalah akan menyerahkan jiwa raganya, entah dijadikan apa pun, bahkan rela dibunuh. Jika Prabu Barma Wijaya Kusumah yang kalah, kerajaannya diberikan kepada Ciung Wanara. Akhirnya Ciung Wanara menang dan menuntut janji. Akan tetapi, sang Prabu Barma Wijaya Kusumah menolak menyerahkan kerajaan karena menganggap kemenangan ayam Ciung Wanara adalah rekayasa. Perkelahian pun terjadi.
Kisah Ciung Wanara ini tidaklah mengikuti pakem yang sebenarnya, tetapi sarana metafora dalam suksesi pemerintahan. Telah terjadi degradasi jiwa kepemimpinan, kemerosotan moral antara yang muda kepada yang tua atau sebalikknya. Ciung Wanara yang notabene adalah rakyat diberi karakter berani, tidak sopan, dan arogan kepada raja. Demikian juga dengan raja yang tutur katanya tidak patut serta pengecut dan tidak bertanggung jawab. Masing-masing kubu memiliki massa pendukung yang siap bertarung seperti ayam aduan. Saling mencaci dan memprovokasi, dan menyakiti.
Kenyataan tersebut tidaklah terlalu jauh dengan model suksesi yang terjadi di negeri ini. Semua elemen kekuasaan mempunyai cara dan alat untuk saling merebut. Cara politik dan alat kekuasaan. Ayam jago yang diadu adalah metafor power yang dimiliki masing-masing kandidat. Power yang dimaksud dapat berupa partai atau personel yang menjadi kaki tangan mereka. Sedangkan Raja dan Ciung Wanara merupakan metafor pemegang kekuasaan yang masih eksis dan calon penguasa dalam suksesi pemerintahan. Guna mendapatkan kekuasaan, siapa pun rela berbuat apa pun. Keteladanan dan budi pekerti luhur telah luntur oleh peluh keserakahan manusia. Masing-masing kubu saling mengadu domba. Ciung Wanara berusaha menyelamatkan diri dan kekuasaan yang hampir jatuh ke tangannya. Ia mengajak pendukung Prabu Barma Wijaya Kusumah untuk berdamai dengan menyuapnya. Karena uang, semua berbalik mendukung Ciung Wanara dan berseru: Hidup Ciung Wanara! Pemimpin kita yang bijaksana! Hidup Ciung Wanara! Pemimpin kita yang mulia! Betapa idealisme rakyat dapat ditukar dengan mudahnya dengan uang. Betapa nista dan sangat memalukan, tetapi inilah realita.

Upacara penyerahan tahta kerajaan telah disiapkan. Ciung Wanara menebar senyum dan Prabu Barma Wijaya Kusumah cemberut. Tiba-tiba masuk seombongan orang berbaju putih yang sebagian membawa pedang mengepung gedung pertunjukan. Inilah peristiwa yang mengawali Babak 4 Satria Baju Putih. Pementasan lakon Ciung Wanara ditolak dan Satria Baju Putih menghendaki Kisah Nabi Musa yang religius. Satria Baju Putih yang juga mengatasnamakan rakyat dan religiusitas, tidak terima jika kerajaan dan rakyat diperjudikan dengan mengadu ayam. Ciung Wanara dianggapnya arogan karena merasa dirinya berasal dari keluarga raja yang dibuang dan dipelihara oleh rakyat. Sehingga ia merasa berhak kembali ke istana dan mengingkari bahwa berasal dari rakyat. Sedangkan Nabi Musa adalah rakyat yang dipelihara oleh raja dan sangat peduli kepada rakyat. Penghayutan Nabi Musa bertujuan menyelamatan. Namun, penghanyutan Ciung Wanara bertujuan pembunuhan. Terjadilah pertengkaran antara Ciung Wanara dengan Satria Baju Putih, sementara Prabu Barma Wijaya Kusumah berada di antara keduanya.
Melalui tokoh Satria Baju Putih, Agus R. Sarjono menunjukkan adanya dua tipe kepemimpinan. Pertama, tipe Ciung Wanara. Pemimpin ibarat kacang yang lupa akan kulitnya. Pemimpin yang sombong, tidak berpihak kepada rakyat, mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Kedua, tipe Nabi Musa. Pemimpin yang agamis, menyatu dengan rakyat, dan senantiasa mendengarkan suara aspirasi rakyat. Dengan kata lain penguasa tidak boleh dipilih karena keturunan, apalagi turun temurun. Meskipun rakyat jelata asalkan memenuhi syarat kepemimpinan, berhak menjadi pemimpin bangsa.
Satria Baju Putih yang datang mengatasnamakan rakyat dan agama ternyata juga melakukan aksi destruktif dan anarkhis. Mereka melakukan pemaksaan kehendak kepada orang lain, menyandera, bersenjata tajam, dan menantang perang. Perang pun berkobar segi tiga antara pendukung Ciung Wanara, pendukung Prabu Barma Wijaya Kusumah, dan rombongan baju putih. Keadaan chaos. Hal demikian juga mewarnai kehidupan di negeri ini. Kelompok dengan mengatasnamakan agama merusak dan menyakiti orang lain, bertindak sewenang-senang, dan main hakim sendiri.
Di antara peperangan yang dahsyat, terdengar suara tembakan di mana-mana. Sang Jenderal datang bersama pasukannya. Ia menyerukan kebersamaan. Atas nama kepentingan bersama, gedung pertunjukan diamankan. Tidak boleh ada yang memilih lakon sesuai kesenangan masing-masing. Demikianlah demokrasi negeri ini dikebiri dengan mengatasnamakan ketenteraman, perdamaian, dan kepentingan bersama. Atas nama situasi yang aman terkendali, semua orang tidak boleh menyampaikan aspirasi dan keinginannya.

Atas perintah sang Jenderal maka pertunjukan dalam gedung dikembalikan pada kisah semula, yaitu kisah cinta antara Lelaki dan Perempuan. Inilah Babak 5 Ini Baru Cinta. Kisah dalam babak ini sama dengan Babak 1 Cinta-Cintaan, hanya saja pada pertunjukan ini tidak ada yang berani mengganggu atau membubarkan karena dijaga ketat oleh pasukan dengan senjata lengkap. Banyak orang yang menjadi penurut karena dalam penekanan. Mereka mengatakan dan melakukan sesuatu tidak sesuai dengan hati nurani.
Naskah drama Atas Nama Cinta karya Agus R. Sarjono ini merupakan ironi kehidupan manusia dalam segala dimensi. Aktivitas yang dimainkan oleh berbagai kalangan dalam politik selalu mengatasnamakan sesuatu. Ambisi dan obsesi yang kejarnya tidak lebih dari nafsu pribadi yang mencatut kepentingan bangsa. Mereka menyebutnya demi pembaharuan dan reformasi. Beberapa orang yang bertindak telah berani membawa nama rakyat. Mereka mengatasnamakan perjuangan bersama.
Aneh, semua mengatasnamakan cinta.
*********************************************

E. APRESIASI V
Mozaik Ayat-Ayat Cinta

Oleh Lilis Indrawati, S.Pd.
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
SMA Negeri 7 Malang

Berikut puisi karya tokoh Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta.
Walaupun ia seorang mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar Mesir, Fahri tidak pandai menggaet perempuan. Akan tetapi sebagai laki-laki normal ia memiliki perasaan cinta dalam hatinya, entah untuk siapa. Pada suatu malam di musim semi, ia menulis puisi berjudul Bidadariku. Tumpahan perasaan cintanya tersebut tertampung di buku hariannya. Perhatikan larik-larik puisi di bawah ini!

Bidadariku,
Namamu tak terukir
Dalam catatan harianku
Asal usulmu tak hadir
Dalam diskusi kehidupanku
Wajah wujudmu tak terlukis
Dalam sketsa mimpi-mimpiku
Indah suaramu tak terekam
Dalam pita batinku
Namun kau hidup mengaliri
Pori-pori cinta dan semangatku
Sebab
Kau adalah hadiah agung
Dari Tuhan
Untukku
Bidadariku

Fahri tidak tahu untuk siapa puisi itu ditulis, ia tidak mengacu satu nama sebagai gadis pujaaannya. Meskipun banyak gadis cantik dan terpelajar yang ia kenal, tidak pernah terbersit dalam hatinya untuk memiliki satu atau lebih di antara mereka. Sebagaimana tertera pada larik:

/ Bidadariku,/
/Namamu tak terukir/
/Dalam catatan harianku/

Ia pun tidak pernah menentukan persyaratan tentang asal usul sang bidadari. Memikirkan dan membicarakannya juga tidak pernah.

/Asal usulmu tak hadir/
/Dalam diskusi kehidupanku/

Bahkan ia tidak tahu bagaimana wujud bidadari yang dipujanya. Apalagi memimpikannya, wajahnya tidak pernah melintas dalam bayangannya.

/Wajah wujudmu tak terlukis/
/Dalam sketsa mimpi-mimpiku/

Hadirnya bidadari tersebut tidak terinspirasi oleh kemerduan suara siapa pun, Fahri tidak memiliki pencitraan suaranya.

/Indah suaramu tak terekam/
/Dalam pita batinku/

Sebagaimana ia selalu berharap ada orang yang menyatakan cinta kepadanya, atau menawarkan seseorang untuk menjadi istrinya. Dan bidadari itu hidup dalam hati dan memacu semangat hidupnya.

/Namun kau hidup mengaliri/
Pori-pori cinta dan semangatku/

Bidadari itu tidak pernah ada namun ada dalam keyakinan Fahri. Karena ia yakin tentang jodoh yang diberikah Allah swt kepadanya.

/Sebab/
/Kau adalah hadiah agung/
/Dari Tuhan/
/Untukku/
/Bidadariku/

Selama ini ia memang tidak pernah berani mencintai seorang gadis pun karena dia selalu menganggap “Aku ini siapa? Aku hanya orang miskin dari desa. Anak penjual tape. Santri yang pernah mengabdikan diri di pondok pesantren, …”. Begitulah pikiran Fahri tentang cinta. Eksistensinya sebagai mahasiswa program doktoral di Universitas Al Azhar Mesir tidak bisa diandalkan untuk urusan cinta. Akan tetapi dia hebat dalam pendidikan, dalam agama, dalam cita-cita, dan segala selain harta dan wanita.
Dan Bidadari dalam khayalan akhirnya menjadi kenyataan ketika Syeikh Ahmad menawarkan kepada Fahri untuk menikahi seorang gadis Turki-Jerman yang bernama Aisha.


7 thoughts on “Apresiasi

    mgmp1 responded:
    29 Juli 2008 pukul 3:34 pm

    Untuk Bapak Pratikno (maaf kalau salah ejaan)
    Ini hanya contoh. Usul Bapak sudah kami respon, kami menunggu kiriman file.
    terima kasih

    Suyati said:
    29 Juli 2008 pukul 4:25 pm

    Ketika saya membaca novel Ayat-Ayat Cinta, saya membayangkan,
    Seandainya tokoh Fahri nyata adanya dalam kehidupan kaum remaja saat ini, alangkah indahnya dunia ini. Alangkah bahagianya orang tua yang memiliki anak tanpa cela seperti tokoh Fahri.

    Admin:
    Betul Bu Yati. Sayang sekali filmnya jauh berbeda dengan cerita dalam novel. Karakter Fahri dalam film juga tidak sama dengan Fahri dalam novel.
    Selamat mengemban tugas untuk Ibu.

    Anggia PA said:
    1 Agustus 2008 pukul 10:03 am

    saat menonton Ayat-ayat cinta di bioskop,saya gak begitu tertarik pada film ini. namun ketika saya membaca novel ayat-ayat cinta, saya begitu terlarut dalam ceritanya.novel yang sarat akan politik, budaya, sosial, roman tercampur baur dalam novel ini. apalagi gaya bercerita pengarang yang mengajak pembaca berkeliling ke Mesir, dan cara menggambarkan karakteristik tokoh terutama fahri, maria dan aisyah. wah kalo saya menikah sama Fahri sangat beruntung sekali (saya kan belum nikah) he he…

    Admin:
    Semoga mendapat jodoh seperti Fahri….

    mastun said:
    24 Agustus 2008 pukul 5:44 pm

    Ayat-ayat cinta adalah tema cerita ttg cinta yg didasarkan pada ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasulullah. Mudah-mudaan di negeri ini meneladani karakter tokoh Fahri. Tokoh yg sabar, sederhana tdk matrialis, bekerja keras, menuntut ilmu, konsisten memegang kebenaran Islam, cinta pada Rasulnya. Salam kenal semua

    Admin:

    Salam kenal juga .
    Terima kasih atas kunjungan Ibu.

    Fahmi Latif said:
    15 Februari 2009 pukul 3:32 pm

    “Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, romantis adalah sifat mesra dalam percintaan, mengutamakan perasaan, dan sentimen idealisme.”

    orang malaysia panggil “romantik” ataupun kasih sayang yang hadir dari hati….. yang diluahkan melalui perasaan…yang tulus…. secara spontan yang tidak boleh direka2….🙂

    romantik la….
    spt luahan kata2…
    1) abang sayang kamu
    2) kaulah buah hati ku sayang ku…

    luahan perasaan dalaman..kan… hanya timbul sekirannya ikhlas.

    i ketut tunik said:
    29 April 2009 pukul 3:42 pm

    SAYA SUKA DENGAN TULISAN IBU, KALAU ADA MATERI YANG LAIN APA BISA SAYA DAPATKAN.
    KALAU ADA, TOLONG KABARI YA BU

    TRIM KASIH BANTUANNYA

    Retno Sulistyowati said:
    26 Mei 2009 pukul 8:12 am

    Pernyataan bu Lilis dalam menanggapi sajak “Palsu” karya Agus R. Sarjono yang dibacakan oleh Mas Joni Ariadinata dalam acara SBSB di SMAN 1 Pamekasan 8 th yang lalu, membuat saya turut prihatin. Pernyataan tentang keberadaan guru yang membuat kepalsuan terutama lagi sikap palsu memang tidak seharusnya dilakukan sebab guru yang harusnya di gugu lan ditiru nanti akan mencetak generasi yang tidak diharapkan bangsa dan negara di masa mendatang. Dan dengan karya Saudara Agus membuat motivasi untuk ibu menjadi lebih baik bahkan membuktikan kepada masyarakat ataupun dunia bahwa guru tidak sebegitu nya, Saya dukung. Semoga pernyataan ibu dapat menggugah hati nurani paraguru yang masih terlena dengan keberadaannya dan menganggap remeh pekerjaan yang diembannya. Ini juga membuat koreksi bagi semua guru dimana pun berada terutama untuk diri saya pribadi agar tidak menganggap remeh tugas yang mulya ini.
    Hai para guru, mencobalah untuk tidak memalsukan semua yang ada karena apa yang anda lakukan akan mengotori citra paraguru. Guru yang menjadikan anak didiknya bukan hanya pandai namun juga berakhlak mulia itu dambaan kita semua.
    Saya, kagum pada Saudara Agus R. Sarjono yang berani mengungkapkan sesuatu pada tempatnya, agar yang belum pada tempatnya dapat kembali pada tempat yang semestinya.
    Untuk bu Lilis, kalau masih menyimpan arsip puisinya boleh lah ditampilkan. Agar kami dapat membacanya, terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s