Artikel

A. ARTIKEL I

Benang Kusut Pencemaran Air Sungai Di Kelurahan Ciptomulyo
Pengusaha Sudah Merasa Sesuai Prosedur, Warga Kurang Peduli Lingkungan

Oleh Mutiara Priza dan Niken Kurnia
Siswa SMA Negeri 7 Malang

(Juara I penulisan artikel pelajar hari Air sedunia 2009)

Bau menyangat itu merupakan faktor utama sejarah mengapa sungai ini dinamakan kali badeg. Kali badeg adalah istilah bahasa Jawa yang berarti sungai busuk. Nama lain dari sungai ini juga tak kalah keren, yaitu Coban Bau. Coban, juga merupakan istilah bahasa Jawa yang berarti air terjun. Dinamakan coban, karena aliran sungai ini ada yang turun seperti air terjun.
Sungai ini letaknya di jalan Kolonel Sugiono gang VIII Kelurahan Ciptomulyo
Kecamatan Sukun Kota Malang. Letaknya kira-kira 1 KM dari fly over (jalan layang) yang ada di daerah stasiun Kota Lama Malang.
Tidak hanya baunya yang menyengat. Sungai ini sepertinya sangat memenuhi kriteria sungai yang tercemar. Airnya jauh dari kata jernih. Air sungai ini berwarna keungu-unguan dan berbusa. Hal itu mengindikasikan bahwa air sungai ini telah tercemar limbah pabrik yang sarat dengan bahan kimia berbahaya. Sampah yang menumpuk dan berserakan di mana-mana seakan siap membantah jika ada yang mengatakan bahwa sungai ini sebenarnya belum tercemar.
Jika mau menelusur kira-kira seratus meter ke selatan, tepatnya di depan RPH (Rumah Potong Hewan) akan dijumpai juga air sungai yang seakan enggan mengalir. Alirannya sangat lambat dihambat sampah dan rumput-rumput liar di sekitarnya. Warnanya abu-abu kecoklatan, sangat tidak menarik dipandang. Sepertinya, sungai ini juga telah mengalami pendangkalan yang cukup parah.
Tercemarnya sungai oleh limbah pabrik dan sampah ini tentu sangat berbahaya bagi masyarakat sekitarnya. Banyak penyakit akan timbul. Bau busuk yang menyengat akan menyebabkan penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan) dan paru-paru. Sungai yang tercemar sampah akan membuat linkungan tidak sehat. Bakteri, tikus, nyamuk, dan organisme pembawa penyakit yang lain akan menjadikannya “kawasan perumahan elit” bagi tempat tinggal mereka. Sangat beralasan, jika dr. Andi mengatakan bahwa daerah Ciptomulyo adalah “daerah merah” atau daerah rawan penyakit.
Banyaknya sampah yang berserakan di sungai ini menambah satu lagi daftar bahaya yang ditebarkan oleh sungai ini, yaitu banjir. Banjir merupakan pelanggan tetap yang akan selalu datang ke daerah ini setiap musim hujan. Sampah-sampah itu akan membuat blokade agar air tidak lancar mengalir. Akibatnya, air akan meluap dan mencari jalannya sendiri, dan banjirpun tak dapat dihindari.
Dampak tercemarnya sungai ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar. Masyarakat lain yang masih memanfaatkan sungai brantas juga akan terancam sebab sungai yang tercemar ini bermuara ke Sungai Brantas. Seperti diketahui, sungai Brantas masih dimanfaatkan warga untuk aktifitas MCK, bahkan ada yang masih dipakai untuk minum. Hal itu tentu sangat berbahaya untuk kesehatan warga yang masih memanfaatkan sungai Brantas.
Tidak hanya mengancam manusia, limbah pabrik yang sarat bahan kimia berbahaya itu akan juga mengancam ekosistem sungai. Ikan-ikan yang ada di sungai akan mati. Belum lama ini, ramai dibicarakan di media massa, bahwa ikan di bendungan sutami banyak yang mati sehingga mengundang protes para nelayan. Tentunya, bukan tanpa alasan jika diasumsikan bahwa tercemarnya sungai di Ciptomulyo juga memberikan kontribusi matinya ikan di bendungan Sutami.
Bapak Cholis, salah satu warga yang tinggal dekat dengan lokasi mengatakan bahwa kondisi sungai yang seperti itu sudah cukup lama, bahkan sudah terjadi sebelum beliau dilahirkan. “Kalau warga sini sudah kebal baunya Mbak, lha mau gimana lagi, tempat tinggalnya di sini,” ungkapnya polos.
Pernyataan bapak Cholis ini tidak dibantah oleh Ibu Mujiwati, Kasi Pelayanan Umum Kelurahan Ciptomulyo. Diakuinya bahwa memang, kali badeg merupakan sarana pembuangan limbah pabrik. Setidaknya, ada tiga pabrik yang membuang limbahnya ke sungai ini, yaitu PT Kasin dan PT Usaha Loka, keduanya bergerak dibidang pengolahan kulit, dan PT Nasional yang bergerak dibidang pengolahan karet.
Masih menurut Ibu Mujiwati, prosedur yang dilakukan ketiga perusahaan itu sebenarnya sudah benar. Mereka sudah mengantongi izin untuk membuang limbah di sana. “Ketiga perusahaan itu ada dan berdiri sebelum ada pemukiman penduduk. Izin mereka juga lengkap dan sesuai prosedur. Bahkan, warga yang ada di sekitar bantaran sugai itu yang mayoritas tidak memiliki IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan bahkan ada juga yang membangun rumah di lokasi tanah pemerintah yang bukan hak mereka,” jelas Ibu Mujiwati berusaha meyakinkan. Hal itu menyebabkan aparat pemerintahan tidak mampu berbuat banyak untuk menekan ketiga perusahaan tersebut.
Bapak Sukiman, tokoh masyarakat setempat, yang kebetulan penulis temui di kantor kelurahan menyatakan bahwa permasalahan limbah yang mencemari sungai di Ciptomulyo itu seperti benang kusut yang sulit diuraikan. Warga sudah berkali-kali berdemo ke aparat pemerintahan atau ke pabrik. Tapi, memang posisi hukum warga tidak kuat. Ironisnya, tidak jarang, demo warga itu ada tendensi khusus agar mereka diangkat menjadi karyawan di pabrik itu. “La wong karyawan pabrik itu sebagian besar warga sini Mbak, kalau pabriknya ditutup mereka mau kerja apa? Mereka yang demo-demo itu kan sebenarnya punya kepentingan tertentu,” kata Pak Sukiman berapi-api.
Ketika ditanya tentang apakah pemerintah tidak mengawasi pengolahan limbah pabrik itu sebelum dibuang ke sungai, Ibu Mujiwati menjawab “Hal itu sebenarnya sudah diupayakan, tapi menurut pengusaha, biaya pengolahan limbah itu lebih besar daripada biaya operasional pabrik itu sendiri. Kan perusahaannya bisa bangkrut Mbak.” Ketika disinggung masalah pendangkalan dan lambatnya aliran sungai yang ada di depan RPH, Ibu Mujiwati mengatakan bahwa memang seluruh limbah rumah tangga warga Ciptomulyo dialirkan ke sungai itu. Bisa dibayangkan, sungai yang tidak terlalu besar itu, setiap hari harus rela menampung sisa air cucian yang sarat deterjen, sisa air mandi yang bercampur sabun, air kencing dari ribuan manusia berikut tinjanya, bungkus sabun, bungkus sampo, tas kresek sisa belanjaan ibu-ibu, sisa makanan, dan masih banyak lagi sisa-sisa aktifitas manusia yang lain yang harus ditampung dan dipeluk oleh sungai itu.
Bapak Mukono, ketua RT 09 RW 01, yang daerah “pemerintahannya” berdekatan dengan sungai itu menyayangkan kesadaran warga yang rendah terhadap lingkungan. “Warga sini sulit untuk diajak kerja bakti Mbak. Kerjabaktinya hanya kalau mau tujuhbelasan aja,” kata beliau dengan mimik kecewa. Pria yang berprofesi sebagai anggota TNI itu juga menambahkan bahwa dirinya sebenarnya sudah beberapa kali mengadukan hal ini kepada aparat terkait. Namun, realisasinya belum juga ada. “Dulu, sebenarnya sudah dibuatkan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk rumah tangga namun konstruksinya kurang bagus sehingga macet dan sekarang sudah tidak digunakan lagi,” tambah beliau.
Antisipasi lain yang telah dilakukan, menurut beliau adalah dengan membuat jaring digorong-gorong agar sampah tidak masuk ke sungai. Setiap tiga hari sekali, ada petugas yang bertugas mengangkat sampah itu. Untuk keperluan itu, warga dikenakan iuran Rp.1500,00 per bulan. Hal ini sepertinya cukup efektif, meskipun volume sampah yang masuk ke sungai masih banyak. “Mungkin itu limbah dari RT lain yang banyak Mbak. Saya pernah melihat sendiri, ada kasur dan bantal bekas yang dibuang ke sungai itu,” kata beliau.
Memang, jika diamati, pencemaran sungai di daerah Kelurahan Ciptomulyo ini sudah cukup parah dan sulit diatasi. Namun, seberapapun kusutnya benang, tentu masih ada cara menguraikannya. Kesabaran, kerjasama, keuletan, dan ketekunan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan pencemaran air di ciptomulyo ini. Upaya yang dilakukan, sedapat mungkin tidak menggunakan gunting untuk memotong benang meski dengan alasan agar benang kusut itu mudah dan cepat terurai. Duduk bersama, mencari solusi tanpa harus ada yang merasa disakiti adalah upaya yang harus segera terealisasi. Jika dibiarkan berlarut-larut, benang itu akan semakin kusut, ujung pangkalnya akan semakin sulit dirunut.

B. ARTIKEL II
MEMBANGKITKAN GREGET SISWA
BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PEMBELAJARAN BERFOKUS PADA MASALAH

Oleh: Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd

Dunia pendidikan kita saat ini masih menampung banyak masalah. Program pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan belum menampakkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Jumlah anak usia pendidikan dasar yang berada di luar sistem pendi-dikan nasional masih sangat besar. Kualitas pendidikan pun masih relatif rendah. Di pihak lain, tantangan di berbagai bidang kehidupan semakin berat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang informasi, komunikasi, dan transportasi sangat pesat, eskalasi pasar bebas antarnegara dan bangsa semakin meningkat, dan iklim kompetisi di berbagai aspek kehidupan semakin ketat. Masih banyak lagi masalah lain yang memerlukan penyelesaian seperti demokratisasi, hak asasi manusia, serta penye-lenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang adil dan terbuka.
Masalah di atas tidak dapat dibiarkan, tetapi perlu dicari solusinya. Salah satunya adalah mengkaji paradigma sistem pendidikan yang selama ini menjadi acuan dalam penyelenggaraan pendidikan dan menggagas paradigma baru yang sesuai untuk pendidikan kita. Paradigma lama yang bertumpu pada konsepsi analisis masukan-keluaran perlu diubah menjadi paradigma yang lebih sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Proses pendidikan tidak hanya membekali dan melatih siswa untuk bisa bekerja, tetapi membekali dan melatih siswa untuk bisa hidup. Pembelajaran dituntut dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kecakapan personal, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik dan vokasional. Sikap-sikap yang diperlukan untuk ini adalah keterbukaan, fleksibelitas, dan prinsip dasar hidup dalam konteks sosial yang meliputi kepekaan, kemandirian, dan tanggung jawab.
Paradigma lama tentang belajar yang cenderung menekankan pada teori ekonomi perlu diubah menjadi paradigma baru yang menekankan pada perubahan potensi diri melalui interaksi yang kreatif dan dinamis. Paradigma yang memandang bahwa masukan diperbaiki, keluaran secara otomatis akan menjadi baik tidak dapat dipertahankan karena masukan pendidikan tidak dapat disikapi sebagai masukan yang statis. Masukan pendi-dikan adalah masukan yang dinamis yang banyak dipengaruhi oleh faktor proses dan konteks pendidikan. Karena itu, dalam proses pendidikan, faktor proses dan konteks harus dipertimbangkan selain pertimbangan terhadap masukan dan keluaran pendidikan.

Membangkitkan Greget Belajar Bahasa
Belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan interaksi untuk mengubah potensi menjadi pancaran dahsyat keunikan diri. Interaksi tersebut akan terjadi jika terdapat hubungan antara sesuatu yang sudah dipahami dengan sesuatu yang baru. Melalui peristiwa belajar tersebut, diri siswa akan mengalami perubahan ke arah diri yang lain dan baru. Jika pembelajaran tidak mampu mengubah diri siswa, pembelajaran itu sia-sia. Karena itu, proses menciptakan hubungan antara pengetahuan lama yang telah dimiliki siswa dengan perihal baru yang akan dipelajari merupakan aktivitas penting dalam proses pembelajaran.
Belajar bahasa adalah belajar berbahasa, artinya berpraktik menggunakan bahasa sesuai dengan fungsi dan maknanya dalam komunikasi. Karena itu, belajar bahasa terjadi dalam suatu kegiatan interaksi belajar-mengajar bahasa. Aktivitas interaksi pembelajaran bahasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktivitas interaksi pembelajaran mata pelajaran lainnya. Karakteristik aktivitas interaksi belajar-mengajar bahasa disajikan berikut ini.
(1) Aktivitas yang dilaksanakan dalam kegiatan belajar-mengajar berpusat pada siswa. Artinya, siswa yang harus aktif dalam melaksanakan praktik penggunaan bahasa. Keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar merupakan salah satu karakteristik yang menonjol dari interaksi pembelajaran. Dalam aktivitas belajar, siswa berperan sebagai (a) peneliti, yakni melakukan eksplorasi objek, peristiwa, orang, atau konsep, (b) pemagang kognitif, yakni menghaluskan kognitifnya melalui proses magang, dan (c) penghasil pengetahuan, yakni menyintesis pengetahuan dan keterampilan.
(2) Aktivitas yang dilaksanakan dalam kegiatan belajar-mengajar mengarah secara langsung pada latihan atau praktik penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tulis. Praktik penggunaan bahasa memiliki peranan yang sangat penting dalam pengajaran bahasa, karena pengajaran yang hanya difokuskan pada pemahaman kaidah bahasa tidak akan berpengaruh pada performansi aktual baik dalam berbicara maupun menulis.
(3) Aktivitas yang dilaksanakan dapat membina dan mengarahkan kemampuan siswa dalam memilih dan menata bahasanya sesuai dengan faktor-faktor penentu tindak komunikasi. Faktor-faktor yang dimaksudkan meliputi siapa partisipan wicara, untuk tujuan apa, dalam situasi bagaimana, dalam konteks apa, dengan jalur dan media mana, dan dalam peristiwa apa.
(4) Aktivitas yang dilaksanakan dalam kegiatan belajar-mengajar mengarah pada kreativitas penggunaan bahasa bukan hanya penggunaan bahasa yang bersifat mekanik. Aktivitas yang dilaksanakan harus benar-benar memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan bahasa secara kreatif dengan jalan bebas memilih apa yang akan diungkapkan dan bagaimana mengungkapkannya. Latihan-latihan yang bersifat mekanik harus diminimalkan karena tidak memberikan kesempatan pada siswa untuk berkreasi dalam memilih dan menata bahasanya sendiri.
Agar aktivitas interaksi belajar-mengajar sebagaimana yang telah diuraikan di atas dapat dicapai, setiap guru bahasa harus dapat berperan sebagai individu yang mampu memberikan bimbingan, memantau kegiatan siswa, menciptakan latihan-latihan kreatif, dan dalam kesempatan yang lain dapat bertindak sebagai teman komunikasi bersama-sama dengan siswa. Interaksi dalam kegiatan belajar-mengajar berasal dari dan terletak pada siswa. Siswa harus mendapat kesempatan dalam interaksi komunikatif yang bermakna. Dalam hal ini siswa berperan sebagai subjek didik, sedangkan guru bertindak sebagai penyuluh, penganalisis kebutuhan, dan pembimbing siswa dalam berlatih berkomunikasi secara wajar.
Satu hal lagi yang perlu mendapat perhatian adalah kegiatan-kegiatan yang direncanakan dalam kegiatan belajar-mengajar harus sesuai dengan kebutuhan siswa. Kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa akan membangkitkan greget belajar siswa. Greget yang tinggi akan dapat meningkatkan keberhasilan siswa dalam belajar. Hal ini terjadi karena dengan semangat yang tinggi, siswa terdorong untuk mengetahui, kemudian melakukan sesuatu untuk dapat menerima apa yang ingin diketahuinya tersebut. Peningkatan greget siswa dalam belajar dapat dilihat pada adanya keterlibatan secara aktif siswa terhadap hal-hal yang dipelajarinya. Sebaliknya, pengajaran yang kurang sesuai dengan kebutuhan siswa akan sangat membosankan, sehingga motivasi belajar siswa menjadi rendah.
Greget belajar siswa dapat dibangun melalui tugas-tugas belajar yang bermakna dalam kehidupan siswa. Tugas-tugas tersebut merupakan tugas yang menantang, yakni tugas yang merentang keterampilan berpikir dan keterampilan sosial siswa. Selain itu, tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya tugas yang otentik, yakni tugas nyata yang menyatu dengan pengalaman hidup sehari-hari siswa. Dalam situasi tertentu, untuk meningkatkan kegairahan siswa dalam belajar, guru bahasa Indonesia dapat bekerja sama dengan guru mata pelajaran lainnya untuk memberikan tugas yang terintegrasi/ interdisipliner, yakni tugas yang merupakan pemaduan beberapa mata pelajaran.
Kegairahan hidup siswa dalam kehidupan di luar sekolah dapat dijadikan sebagai acuan dalam menggairahkan belajar siswa dalam pembelaajaran bahasa Indonesia. Keragaman, kefleksibelan, dan kesamaan yang ada dalam kehidupan nyata di masyarakat digunakan sebagai dasar pembentukan kelompok kerja siswa dalam memecahkan permasalahan belajar. Karena itu, dalam pengelompokan siswa dalam belajar, guru harus mempertimbangkan prinsip (a) keberagaman, yakni keberagaman dalam hal jenis kelamin, kultur, etnis, agama, gaya belajar, kemampuan, dll., (b) kefleksibelan, yakni kelenturan dalam pembentukan kelompok yang tersusun sesuai dengan tujuan belajar, dan (c) kesamaan, yakni pemerlakuan siswa secara adil.

Pembelajaran Berfokus pada Masalah
Dalam kehidupan di masyarakat, anak-anak selalu menghadapi berbagai persoalan. Persoalan tersebut ada yang datang dari teman, lingkungan, ataupun dari dirinya sendiri. Mereka berusaha secara aktif dan kreatif untuk memecahkan persoalan tersebut. Kadang-kadang mereka juga mengalami konfrontasi dengan temannya dalam mengatasi persoalan hidupnya itu. Mereka berusaha mengerahkan segala potensinya untuk tetap dapat hidup dan meraih harapan sesuai dengan yang dicita-citakan. Karena itu, kegairahan hidup melalui upaya memecahkan dan mengatasi masalah tersebut dapat dijadikan model pembelajaran yang menggairahkan.
Pembelajaran berfokus pada masalah (PFM) termasuk salah satu model pembelajaran yang dapat menciptakan kondisi belajar siswa lebih aktif dan kreatif. Melalui PFM, siswa terlibat secara aktif dalam pemecahan masalah secara sistematis sesuai dengan metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Melalui PFM, siswa dikonfrontasikan secara positif dengan masalah-masalah praktis melalui stimulus dalam belajar.
PFM memiliki beberapa karakteristik di antaranya adalah (1) memulai belajar dengan suatu masalah, (2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa, (3) mengorganisasikan pelajaran di seputar masalah, (4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa pembelajaran dengan model PFM dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang telah diketahui dan apa yang perlu diketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.
Masalah yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada siswa seperti kerja sama dan interaksi dalam kelompok, di samping pengalaman belajar yang berhubungan dengan pemecahan masalah seperti memahami masalah, mengidentifikasi masalah, merancang kegiatan pemecahan masalah, mengumpulkan informasi dari berbagai rujukan, menginterpretasikan jawaban masalah, membuat simpulan, mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa model PFM dapat memberikan pengalaman yang kaya kepada siswa. Dengan kata lain, penggunaan PFM dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan sehari-hari.

Keunggulan Pembelajaran Berfokus pada Masalah
PFM merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Fokus aktivitas pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah, tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis.
Pembelajaran yang dimulai dengan suatu masalah, apalagi jika masalah tersebut bersifat kontekstual, dapat menyebabkan ketidaksetimbangan kognitif pada diri siswa. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacam-macam pertanyaan di sekitar masalah seperti “apa yang dimaksud dengan….”, “mengapa bisa terjadi….”, “bagaimana mengetahuinya…” dan seterusnya. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri siswa, motivasi intrinsik untuk belajar akan tumbuh. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan siswa tentang “konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah”, “apa yang harus dilakukan” atau “bagaimana melakukannya” dan seterusnya. Dari paparan tersebut dapat diketahi bahwa penerapan PFM dapat mendorong siswa berinisiatif untuk belajar secara mandiri. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan siswa sehari-hari karena berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada cara dia membelajarkan dirinya.
Hasil belajar yang diperoleh siswa melalui PFM dapat dipilah menjadi tiga, yaitu (1) keterampilan melakukan pemecahan masalah melalui kegiatan inkuiri, (2) keterampilan belajar sesuai dengan perilaku orang dewasa (adult role behaviors), dan (3) keterampilan belajar mandiri (skills for independent learning). Siswa yang melakukan inkuiri dalam pembelajaran akan menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skill), yakni mereka akan melakukan aktivitas mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan rasionalisasi. PFM juga bertujuan untuk membantu siswa belajar secara mandiri.
Ada empat hal penting dalam pembelajaran yang menggunakan model PFM, yakni (1) tujuan utama pengajaran ini tidak untuk mempelajari sejumlah besar informasi baru, tetapi lebih kepada belajar bagaimana menyelidiki masalah-masalah penting dan bagaimana menjadi siswa yang mandiri, (2) permasalahan dan pertanyaan yang diselidiki tidak mempunyai jawaban mutlak “benar“, sebuah masalah yang rumit atau kompleks mempunyai banyak penyelesaian dan sering bertentangan, (3) selama tahap penyelidikan, siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan dan mencari informasi, sedangkan guru akan bertindak sebagai pembimbing yang siap membantu, dan (4) selama tahap analisis dan penjelasan, siswa didorong untuk menyatakan ide-idenya secara terbuka dan penuh kebebasan. Semua siswa diberi peluang untuk memberikan kontribusi dalam penyelidikan dan menyampaikan ide-idenya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut.
(1) Melalui PFM pembelajaran menjadi lebih bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi diterapkannya konsep tersebut.
(2) Dalam situasi PFM, siswa mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya, apa yang dilakukan oleh siswa sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori akan ditemukan oleh mereka selama pembelajaran berlangsung.
(3) PFM dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, menumbuhkan motivasi intrinsik untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Gejala umum yang terjadi pada siswa pada saat ini adalah “malas berpikir” mereka cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku atau bahan pustaka lain tanpa mengemukakan pendapat atau analisisnya terhadap pendapat tersebut. Bila keadaan ini berlangsung terus, siswa akan mengalami kesulitan mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di kelas dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, pelajaran di kelas adalah untuk memperoleh nilai ujian dan nilai ujian tersebut belum tentu relevan dengan tingkat pemahaman mereka. Oleh sebab itu, model PFM merupakan alternatif yang dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong siswa berpikir dan bekerja dan tidak hanya menghafal dan bercerita.

Tahap-tahap Pembelajaran Berfokus pada Masalah
Penerapan PFM dimulai dengan adanya masalah. Masalah tersebut harus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh siswa. Masalah tersebut dapat berasal dari siswa atau mungkin juga diberikan oleh guru. Siswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, siswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya.
Pemecahan masalah dalam PFM harus sesuai dengan langkah-langkah yang diterapkan dalam metode ilmiah. Siswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Oleh sebab itu, penggunaan PFM dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah kepada siswa. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran berfokus masalah paling sedikit ada delapan tahapan, yaitu (1) mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan data, (3) menganalisis data, (4) memecahkan masalah berdasarkan data yang ada dan analisisnya, (5) memilih cara untuk memecahkan masalah, (6) merencanakan penerapan pemecahan masalah, (7) melakukan ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan, dan (8) melakukan tindakan untuk memecahkan masalah. Empat tahap pertama diperlukan untuk berbagai kategori tingkat berpikir, sedangkan empat tahap berikutnya harus dicapai bila pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi.
Langkah mengidentifikasi masalah merupakan tahapan yang sangat penting dalam PFM. Pemilihan masalah yang tepat agar dapat memberikan pengalaman belajar yang mencirikan kerja ilmiah sering menjadi ”masalah” bagi guru dan siswa. Artinya, pemilihan masalah yang kurang luas, kurang relevan dengan konteks materi pembelajaran, atau suatu masalah yang sangat menyimpang dengan tingkat berpikir siswa dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu, sangat penting adanya pendampingan oleh guru pada tahap ini. Walaupun tidak melakukan intervensi terhadap masalah, guru dapat memfokuskan masalah melalui pertanyaan-pertanyaan agar siswa melakukan refleksi lebih dalam terhadap masalah yang dipilih. Dalam hal ini guru harus berperan sebagai fasilitator agar pembelajaran tetap pada bingkai yang direncanakan.
Suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam PFM adalah pertanyaan berfokus why bukan sekedar how. Oleh karena itu, setiap tahap dalam pemecahan masalah, keterampilan siswa dalam tahap tersebut hendaknya tidak semata-mata keterampilan how, tetapi kemampuan menjelaskan permasalahan dan bagaimana permasalahan dapat terjadi. Tahapan dalam proses pemecahan masalah digunakan sebagai kerangka atau panduan dalam proses belajar melalui PFM. Namun, yang harus dicapai pada akhir pembelajaran adalah kemampuan untuk memahami permasalahan dan alasan timbulnya permasalahan serta kedudukan permasalahan tersebut dalam tatanan sistem yang sangat luas.

Fase-fase pembelajaran melalui model PFM

Fase 1: Mengorientasikan siswa pada masalah
Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PFM, tahapan ini sangat penting. Dalam hal ini, guru harus menjelaskan dengan rinci kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa dan juga oleh guru. Di samping proses yang akan berlangsung, perlu juga dijelaskan cara evaluasi yang akan dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang akan dilakukan.

Fase 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar
PFM mendorong siswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerja sama dan sharing antaranggota. Oleh sebab itu, guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa yang tiap-tiap kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antaranggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru perlu memonitor dan mengevaluasi kerja tiap-tiap kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran.
Setelah siswa diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar, guru dan siswa menetapkan sub-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua siswa aktif terlibat dalam sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Penyelidikan adalah inti dari PFM. Kegiatan yang dilakukan pada fase ini meliputi mengumpulkan data dan melakukan analisis, memberikan pemecahan, dan. membuat penjelasan
Pada tahap ini, guru harus mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan analisis data sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar siswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Pada fase ini, siswa seharusnya tidak hanya membaca informasi untuk pemecahan masalah dalam buku teks. Guru perlu membantu siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Guru hendaknya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir tentang masalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.
Setelah siswa mengumpulkan cukup data dan memberikan permasalahan tentang fenomena yang diselidiki, selanjutnya mereka mulai menawarkan penjelasan dalam bentuk pemecahan dan penjelasan. Selama pengajaran pada fase ini, guru mendorong siswa untuk menyampaikan ide-idenya dan menerima secara penuh ide tersebut. Guru juga harus mengajukan pertanyaan yang membuat siswa berpikir tentang kelayakan jawaban yang mereka buat serta tentang kualitas informasi yang dikumpulkan. Pertanyaan-pertanyaan berikut kiranya cukup memadai untuk membangkitkan semangat penyelidikan bagi siswa. “Apa yang Anda butuhkan agar Anda yakin bahwa pemecahan dengan cara Anda adalah yang terbaik?” atau “Apa yang dapat Anda lakukan untuk menguji kelayakan pemecahan masalah Anda?” atau “Apakah ada solusi lain yang dapat Anda usulkan?”. Oleh karena itu, selama fase ini, guru harus menyediakan bantuan yang dibutuhkan tanpa mengganggu aktivitas siswa dalam kegaitan penyelidikan.

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan memamerkannya
Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, tetapi bisa berupa videotape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berpikir siswa. Langkah selanjutnya adalah memamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan siswa-siswa lainnya, guru-guru, orang tua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.

Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
Fase ini merupakan tahap akhir dalam PFM. Selama fase ini guru meminta siswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh pemahaman yang jelas tentang situasi masalah? Kapan mereka yakin dalam pemecahan tertentu? Mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap dibanding yang lain? Mengapa mereka menolak beberapa penjelasan? Mengapa mereka mengadopsi pemecahan akhir dari mereka? Apakah mereka berubah pikiran tentang situasi masalah ketika penyelidikan berlangsung? Apa penyebab perubahan itu? Apakah mereka akan melakukan secara berbeda di waktu yang akan datang? Tentunya masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memberikan umpan balik dan menginvestigasi kelemahan dan kekuatan PFM untuk pengajaran.

Pembelajaran Bahasa Indonesia Berfokus pada Masalah
PFM dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa, khususnya pembelajaran bahasa Indonesia. PFM memiliki manfaat besar dalam melatih kreativitas, daya pikir, dan kemandirian siswa. PFM dapat digunakan sebagai alat yang melatih siswa untuk memecahkan masalah. PFM menggunakan suatu kerangka kerja yang menekankan bagaimana para siswa merencanakan suatu kegiatan untuk menjawab sederet pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya adalah “APA YANG SAYA KETAHUI”, “APA YANG HARUS SAYA KETAHUI”, “APA YANG PERLU SAYA PELAJARI”, dan “BAGAIMANA YANG MENGUKUR ATAU MENGGAMBARKAN HASIL BELAJAR SAYA”. Selama fase merancang kegiatan berfokus masalah, para siswa mengidentifikasi berbagai persoalan dan menyusun suatu daftar setiap tahap kegiatan yang akan dilakukan.
PFM dapat diterapkan untuk melatih siswa bekerja secara mandiri dan menggunakan potensi serta kreativitasnya dalam proses pembelajaran. Dalam aktivitas pembelajaran, siswa mendapat porsi dan peluang besar untuk berlatih menggunakan daya pikir dan keterampilannya dalam menyerap dan menguasai materi ajar yang dipelajarinya. Hal ini sesuai dengan ruh pembelajaran bahasa, yakni melatih dan membelajarkan siswa terampil dan mahir berbahasa. Anak yang terampil dan mahir berbahasa adalah anak yang dapat menggunakan kompetensi dan performansi bahasanya secara optimal, baik kompetensi dan kompetensi berbahasa reseptif maupun produktif.
Pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah pembelajaran menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Dalam pembelajaran bahasa, siswa dilatih dan dibelajarkan untuk menggunakan bahasa sebagai wahana untuk menyerap informasi, menganalisis, menyintesis, mengevaluasi, dan menyampaikannya sebagai informasi baru. Bahasa dalam hal ini difungsikan sebagai sarana untuk berpikir, bernalar, dan berkomunikasi, bukan sebagai materi yang harus dihafal.
Pada umumnya, pembelajaran bahasa sering terjebak pada pembelajaran konseptual tentang bahasa. Bahasa diajarkan sebagai konsep yang harus dihafal dan dimengerti oleh anak sebagaimana pembelajaran ekonomi, kimia, fisika, dan biologi. Anak dibebani pekerjaan untuk menghafal sejumlah istilah yang tidak menguntungkan bagi pembelajaran bahasa. Wal hasil, anak lebih mahir menjelaskan istilah-istilah tersebut, tetapi tidak mampu menggunakan atau menerapkan istilah tersebut dalam aktivitas berbahasa (dalam menulis misalnya). Sebagai contoh, anak memahami dan mampu menjelaskan serta memberi contoh pengertian sinonim, tetapi anak tidak dapat memanfaatkan sinonim tersebut untuk kepentingan menulis atau membaca. Karena itu, model pembelajaran yang demikian ini perlu dirombak sehingga menjadi model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
Standar isi kurikulum bahasa Indonesia menekankan materi pembelajaran bahasa yang lebih bersifat fungsional. Melalui pembelajaran bahasa Indonesia, diharapkan siswa mampu menggunakan bahasa tersebut sesuai dengan fungsinya. Sebagai contoh, beberapa pokok materi ajar bahasa Indonesia dalam kurikulum bahasa Indonesia SMA adalah membuat surat, menyusun karya ilmiah, mengembangkan paragraf, menyusun naskah pidato, menyusun proposal, dan sebagainya. Siswa perlu dilatih dan dibelajarkan menggunakan bahasa Indonesia untuk kepentingan membuat surat, menyusun karya ilmiah, mengembangkan paragraf, menyusun naskah pidato, dan menyusun proposal, bukan diminta untuk memahami dan menghafal sistematika dan ciri-ciri surat, karya ilmiah, paragraf, dan pidato.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia secara fungsional, terdapat tiga masalah pokok yang perlu mendapatkan perhatian dari guru. Ketiga masalah pokok tersebut adalah (a) masalah isi/topik, (b) masalah sistematika/format, dan (c) masalah tatanan bahasa dengan berbagai variasi kesantunannya. Masalah isi/topik merupakan masalah pengetahuan umum yang penguasaannya dapat dilatihkan kepada siswa melalui berbagai bidang studi dan dengan banyak membaca. Masalah sistematika/format merupakan perihal standar yang dapat ditemukan dalam berbagai refernsi. Sementara, masalah bahasa dengan variasi kesantunannya merupakan masalah yang menjadi tugas guru bahasa Indonesia dalam pengemgembangannya. Karena itu, masalah ketiga ini merupakan fokus utama yang menjadi tugas guru bahasa Indonesia dalam aktivitas pembelajaran.
Berdasarkan karakteristik materi ajar bahasa Indonesia sebagaimana dikemukakan di atas, PFM dapat dipandang sebagai salah satu strategi yang memberikan peluang besar bagi aktivitas kelas dalam pencapaian tujuan pembelajaran. Melalui pembelajaran dengan strategi PFM, aktivitas pembelajaran akan menyadarkan siswa untuk bertanya pada dirinya sendiri tentang masalah/topik apa yang akan diketahui, aktivitas apa yang perlu dilakukan untuk mengetahuinya, bagaimana usaha untuk mempelajarinya, dan bagaimana mengukur keberhasilan dan mendeskripsikan hasilnya. Jika kesadaran siswa dalam belajar telah sampai pada taraf tersebut berarti bahwa aktivitas kelas telah berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran, yakni penciptaan kelas learning how to learn.

Penerapan Pembelajaran Berfokus pada Masalah
a. Hal yang harus disiapkan guru sebelum pembelajaran
1) Lakukan identifikasi dan pemetaan topik/kompetensi dasar dalam kurikulum yang akan dibelajarkan kepada siswa.
2) Siapkan lembar-lembar kasus/masalah yang akan diberikan kepada siswa.
3) Lakukan penjajagan ke perpustakaan sekolah untuk menentukan keberadaan sumber referensi yang diperlukan.
4) Siapkan sumber referensi lain yang diperlukan jika hal tersebut tidak tersedia diperpustakaan.
5) Buatlah rambu-rambu masalah dan tugas yang harus dikerjakan oleh siswa.
b. Hal yang dilakukan guru selama pembelajaran
1) Ciptakan kondisi dan situasi kelas yang siap untuk menerima informasi dan melakukan aktivitas pembelajaran.
2) Sampaikan kepada siswa tentang topik/materi yang akan dipelajari.
3) Jelaskan tujuan yang akan dicapai dalam aktivitas pembelajaran.
4) Jelaskan aktivitas yang akan dan harus dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran.
5) Tentukan dan tawarkan kepada siswa apakah aktivitas terseebut dilakukan secara individual atau kelompok.
6) Jika aktivitas dilakukan secara kelompok, tentukan kelompok kerja siswa (pembentukan kelompok dapat dilakukan dengan beragam cara yang menarik).
7) Berikan kasus/masalah kepada siswa untuk dicari penyelesaiannya sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan.
8 ) Berikan kesempatan kepada siswa untuk mengenali kasus dan mengidentifikasi kegaiatan yang akan dilakukan.
9) Arahkan siswa untuk memperdalam wawasannya tentang kasus dengan membacanya dari buku referensi (dapat mencarinya di perpustakaan atau disiapkan oleh guru).
10) Bimbinglah siswa untuk menemukan jawaban/penyelesaian masalah dengan cara mendiskusikannya dengan teman/kelompoknya.
11) Sarankan kepada siswa untuk segera menyusun laporan hasil pemecahan/penyelesaian kasus/masalah.
12) Lakukan aktivitas seminar/sidang pembahasan kasus per kelompok atau antarkelompok (aktivitas ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model pembelajaran yang menarik, misalnya: jig saw, pemajangan karya dan komentar kelompok lain, atau model lainnya).
13) Lakukan sidang pleno pembahasan kasus dan penarikan simpulan.
14) Lakukan aktivitas refleksi.

Beberapa Catatan Penting
a. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru jangan sampai terjebak pada pembelajaran konsep, tetapi guru hendaknya lebih menitikberatkan pada pembelajaran keterampilan menggunakan bahasa.
b. Siswa jangan dibebani oleh usaha untuk menghafalkan konsep/istilah, tetapi hendaknya lebih difokuskan pada upaya menggunakan konsep/istilah tersebut.
c. Dalam membelajarkan topik tertentu, guru sebaiknya lebih banyak menggunakan model ilustratif bukan model definitif.
d. Dalam mempersiapkan aktivitas pembelajaran, guru tidak perlu menjelaskan nama metode yang akan digunakan, tetapi langsung mengarahkan siswa pada aktivitas yang harus dilakukan berdasarkan metode itu.
e. Dalam mempersiapkan pembelajaran, guru jangan disibukkan oleh pembekalan diri terhadap banyaknya materi yang akan diajarkan, tetapi perkayalah diri dengan berbagai strategi untuk membelajarkan siswa tentang materi itu.
f. Sumber dan media belajar bahasa Indonesia tidak hanya berupa buku teks, tetapi telah tersedia banyak dan bervariasi di lingkungan kita.
g. Dalam aktivitas pembelajaran, berikan kesempatan kepada siswa untuk berkreasi dan beralternasi dalam berpendapat selama yang bersangkutan dapat mempertanggungjawabkan pendapatnya itu.

DAFTAR RUJUKAN
Boud, D. Dan Felleti, G.I. 1997. The challenge of problem based learning. London: Kogapage
Cannon, K.C dan Krow, G, R. 1998. Synthesis of Complex Natutal Product as a Vehicle for Student-centered, Problem-based Learning. Journal of Chemical Education, 75(10), 1259-1260.
Dasna, I Wayan. 2005. Penggunaan Model Pembelajaran Problem-based Learning dan Kooperatif learning untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar kuliah metodologi penelitian. Malang: Lembaga Penelitian UM.
Depdiknas. 2004. Landasan Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia. Jakarta: Dirjen
Dikdasmen.
De Porter, B., Reardon, M., dan Sarah Singer-Nourie. 2001. Quantum Teaching. Bandung:Kaifa.
Fogarty, R. 1997. Problem-based learning and other curriculum models for the multiple intelligences classroom. Arlington Heights, Illionis: Sky Light.
Jonassen, D.H. 1999. Designing constructivist learning environments. Dalam Reigeluth, C.M. (Ed): Instructional-design theories and models: A new paradigm of instructional theory, volume II. Pp. 215-239. New Jersey: Lawrence Erlbaum associates, Publisher.
Nunan, David. 1991. Learning Teaching Methodology: A Tex book For Teacher. London: Prentice Hall.
Nur, Muhammad. 2000. Strategi-Strategi Pembelajaran. Surabaya: Pusat Studi Matematika dan IPA Sekolah, Unesa.
Rose, Colin dan Nicholl, Malcolm J. 2002. Accelerated Learning : Cara Belajar Cepat Abad XXI. Bandung: Nuansa.
Sutrisno. 2006. Problem-based Learning dalam Monograf Model-model Pembelajaran Sains (Kimia) Inovatif. Malang: Jurusan Kimia.

C. ARTIKEL III

Karya Laili Ivana, S.Pd.
Guru Bahasa Indonesia
SMA Negeri 7 Malang

“Bu Laili. qWh tDii g’ n9mPuLiNd LKS. qWh gU9h tW kLo tDii d sRuH bWa LKS. LhaaNa9H” CmZ.e qWh dHa nYmpe d SMP 5 Bu. QWh N9MpUliNd tgl 30 yaa Bu…”

Kalimat-kalimat tersebut adalah salah satu SMS dari murid saya. Awalnya, saya kira SMS itu menggunakan bahasa planet. Namun, lama kelamaan saya sadar bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia yang entah dimodifikasi, direstrukturisasi, atau diamputasi.
Sebagai guru bahasa Indonesia, tentu saya sedih melihat fenomena itu. Saat ini, nampaknya anak-anak kita enggan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal itu tidak hanya tampak dalam bahasa SMS. Dalam bahasa sehari-hari, bahkan dalam situasi formal pun kata-kata seperti, nggak, makaci, dan lain-lain masih sering muncul.
Keengganan anak muda dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar mungkin salah satunya disebabkan gengsi bahasa Indonesia yang rendah. Diakui atau tidak, para pemuda kita akan lebih bangga belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lain. Fenomena lain yang meresahkan adalah munculnya trend mencampur bahasa Indonesia dengan kata atau istilah bahasa Inggris atau yang lebih parah, berbahasa Indonesia dengan logat asing. Virus Udah becek nggak ada ojek yang dipopulerkan oleh Cinta Laura adalah bukti paling nyata. Bahkan, “prestasi” itu dilegitimasi oleh salah satu televisi swasta yang menjadikan Cinta Laura sebagai artis yang menjadi trend setter dalam berbahasa.
Tidak hanya para pemuda, orang tua juga ikut terseret arus ketidak banggaan dengan bahasanya ini. Orang tua sekarang, sangat jarang mengursuskan anaknya pelajaran bahasa Indonesia. Sebaliknya, sejak dini mereka rela mengeluarkan uang banyak untuk mengursuskan bahasa Inggris.
Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan para remaja juga diperparah dengan tidak adanya contoh penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kebanyakan contoh yang mereka gunakan adalah salah. Mereka mencontoh bahasa para artis yang lebih sering berbahasa Indonesia gaya ibukota. Media telivisi merupakan tersangka utama dalam kasus ini. Media televisi yang notabene dilihat oleh seluruh masyarakat Indonesia, sering menampilkan bahasa Indonesia yang tidak baik dan tidak benar. Bahasa ini meluncur dari bibir para artis yang tentunya jadi public figure. Namanya public figure, tentu harus dicontoh. Meskipun salah, jika yang mengatakan itu artis hasilnya keren juga. Akhirnya, para pemuda kita yang terobsesi menjadi artis, ikut-ikutan bahasa artis dengan membabi buta.
Terdesaknya eksistensi penggunaan bahasa Indonesia di kandangnya sendiri perlu segera disikapi dan ditangani. Kita tentu tidak ingin, bahasa yang menjadi kebanggaan dan simbol identitas nasional eksistensinya diacak-acak oleh bahasa asing atau bahasa lain. Bagaimana cara menyelamatkannya? Tentu tidak mudah. Berbagai pihak, seperti pemerintah, guru, orang tua, dan para pemuda harus terlibat dan bertindak nyata. Pemerintah harus terus melaksanakan fungsi kontrolnya terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi penyelenggaraan negara dan bahasa resmi pengantar pendidikan. Pemerintah juga harus segera menertibkan penggunaan bahasa pada program-program televisi. Guru, terutama guru bahasa Indonesia harus menjadikan pelajaran bahasa Indonesia semenarik mungkin dan menekankan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika pelajaran menarik, siswa akan merasa senang dan terbiasa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Cara lain adalah dengan merangsang para pemuda
untuk menghasilkan karya bahasa dan sastra yang baik. Hal itu dapat dilakukan dengan digalakkannya lomba-lomba penulisan baik yang berupa karya ilmiah, artikel, esai, dan atau lomba-lomba sastra, seperti penulisan puisi, cerpen, dan novel. Pengadaan lomba-lomba tersebut akan menumbuhkan semangat para pemuda untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika hasil karya tulisan itu bagus dan berkualitas maka dengan sendirinya gengsi bahasa itu akan terangkat. Contohnya adalah karya-karya besar Pramudya A. T. atau Umar Kayam yang telah diakui dunia dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

D. Artikel IV

Reorientasi Mapel Bahasa Indonesia
Oleh: Laili Ivana, S.Pd
SMAN 7 Malang
(Tulisan ini pernah dimuat Jawa Pos, 16 Januari 2009)

Apa sih gunanya belajar bahasa Indonesia? Pertanyaan itu sering sekali saya dengar. Tidak hanya dari siswa, rekan-rekan pun sering bertanya (lebih tepatnya meledek) seperti itu. Bahkan, orang yang baru kenalpun berani bertanya demikian ketika tahu profesi saya sebagai guru bahasa Indonesia.
Namun, saya akui, sebenarnya saya pun merasa “terjerumus” ketika kuliah di jurusan bahasa Indonesia. Pilihan utama saya adalah bahasa Inggris. Namun, nasib berkata lain. Saya diterima di jurusan bahasa Indonesia. Dengan berat hati, saya akhirnya masuk ke jurusan itu. Memang, firman Allah swt. selalu benar “Apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya”. Alhamdulillah, sampai saat ini, saya dapat mempunyai penghasilan dari bahasa Indonesia, yang belum tentu saya dapatkan jika saya kuliah di jurusan lain.
Karena jasa bahasa Indonesia itulah, saya merasa berhutang budi untuk meluruskan persepsi masyarakat yang selama ini cenderung “meremehkan” pelajaran bahasa Indonesia. Persepsi miring terhadap bahasa Indonesia menurut saya sebenarnya adalah salah satu dosa dari pendekatan struktural yang diadopsi habis-habisan dalam pembelajaran bahasa Indonesia tempo dulu. Pendekatan ini hanya melihat bahasa dari strukturnya. Anda yang mengalami pembelajaran bahasa Indonesia di era kurikulum 1984 atau sebelumnya tentu sangat akrab dengan pendekatan ini. Pelajaran bahasa Indonesia waktu itu hanya berisi tentang pencarian subjek, predikat, objek, kata kerja, dan teori-teori tata bahasa yang lain.
Produk dari pendekatan ini adalah manusia-manusia yang hanya pandai mengotak-atik kalimat, menemukan rumus kalimat, dan mencari-cari kesalahan kalimat atau kata yang diucapkan orang lain. Hasilnya, banyak siswa yang tidak bisa berbicara, menulis, menyimak, dan membaca meskipun sudah lulus SMA bahkan perguruan tinggi.
Ironisnya, tidak hanya siswa melainkan banyak guru yang masih tertatih-tatih dalam berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Saya pernah terkejut ketika saya dimintai tolong untuk membuat teks pidato oleh teman saya sesama guru bahasa Indonesia. Saya yakin tidak hanya beliau saja yang mengalami kesulitan dalam hal kemampuan berbahasa. Saya pernah menemukan beberapa guru yang untuk menulis satu paragraf saja, satu jam tidak jadi. Ada juga yang memilih kabur ketika ditunjuk menjadi pembawa acara, apalagi berpidato. Bahkan, untuk keperluan menulis surat resmi pun banyak guru yang merasa kesulitan atau melakukan kesalahan.
Sebenarnya, hal seperti itulah yang seharusnya menjadi urusan pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Indonesia seharusnya berisi latihan-latihan kemampuan berbahasa, yaitu berbicara, membaca, menulis, dan menyimak. Kemampuan berbicara, misalnya berpidato, menjadi MC, menyampaikan sambutan, dan lain-lain. Kemampuan membaca, misalnya membaca cepat, merumuskan ide bacaan, membuat ringkasan bacaan, dan lain-lain. Kemampuan menulis, misalnya menulis artikel, surat, paragraf, dan lain-lain. Kemampuan menyimak, misalnya menemukan inti informasi yang disimak, merumuskan informasi yang disimak, dan lain-lain.
Jadi, apabila masyarakat memahami bahwa kemampuan-kemampuan itulah yang sebenarnya diajarkan oleh bahasa Indonesia, saya yakin bahasa Indonesia akan menjadi pelajaran favorit. Tanpa bahasa Indonesia seseorang tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik. Apapun cita-cita siswa, profesi apapun yang akan digelutinya kelak, tentu akan sangat membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Direktur sebuah perusahaan tentu membutuhkan kemampuan berbicara yang baik dalam memimpin rapat, memberikan pidato, atau sambutan. Pengusaha harus mempunyai kemampuan berkomunikasi baik berbicara maupun menulis dengan paragraf persuasi. Bahkan, banyak profesi yang langsung berhubungan dengan kemampuan bahasa Indonesia, seperti wartawan, pembawa acara, penyiar, dan lain-lain. Bagaimana? Masihkah Anda meremehkan bahasa Indonesia?

E. ARTIKEL V

PENGGUNAAN EJAAN DALAM NASKAH DINAS
Oleh: Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd

A. Pengantar
Naskah dinas merupakan naskah formal yang dibuat atau disusun oleh instansi pemerintahan. Sebagai naskah formal, naskah dinas menggunakan bahasa resmi, yakni bahasa yang telah dianggap baku dan telah disepakati secara nasional. Bahasa yang demikian ini telah memiliki aturan-aturan baku sebagaimana yang tersusun dalam Pedoman Ejaan yang Disempurnakan, Tata Istilah Bahasa Indonesia, dan Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia.
Termasuk dalam naskah dinas tersebut meliputi surat dinas, naskah pidato, laporan, dan sebagainya. Dalam penulisan naskah-naskah tersebut, penggunaan ejaan secara tepat menjadi bagian penting. Penggunaan ejaan yang dimaksud meliputi penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan penulisan kata.

B. Aturan Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
Asas EYD: kata pada gabungan kata dipertahankan kemandiriannya, tidak digabung dengan kata pasangannya; misalnya daya kuda, di kantor, itu pun.
1. Imbuhan digabung dengan kata yang diimbuhinya: dikirimkan, ditulis.
2. Bubuhan digabung dengan kata yang dibubuhinya: pascapanen, antarkota, makroekonomi.
3. Gabungan kata yang mendapat imbuhan atau akhiran ditulis terpisah: memberi tahu, beri tahukan, bertanda tangan.
4. Gabungan kata yang mendapat apitan (awalan dan akhiran) ditulis sebagai satu kata: memberitahukan, menandatangani, pertanggungjawaban.
5. Kata asing, judul buku, judul majalah, judul makalah yang ditulis dalam teks digarisbawahi atau dicetak miring.
6. Judul artikel diapit oleh tanda kutip atau dicetak tebal dan setiap katanya diawali dengan huruf kapital kecuali kata depan dan kata hubung.
7. Bab yang merujuk pada nama bab dalam teks ditulis dengan menggunakan huruf kapital: Hampir semua bab dalam buku ini membahas pembangunan daerah, kecuali Bab II yang membahas ekonomi daerah.
8. Nama lembaga yang bukan nama diri ditulis dengan huruf kecil. Nama lembaga yang berupa nama diri setiap katanya diawali dengan huruf kapital: Hampir semua kantor kabupaten berada di dekat alun-alun, kecuali kan Kabupaten Banyuwangi.
9. Nama diri yang digunakan sebagai nama jenis atau ukuran ditulis dengan huruf kecil: 12 volt (12 V), 1 ampere (1 A), sapi bali, jeruk garut.
10. Untaian kata yang bukan kalimat (tanggal surat, alamat surat, judul buku, judul artikel, dsb.) tidak diakhiri dengan tanda baca.
11. Kata yaitu, sedangkan, tetapi, sehingga didahului oleh tanda baca koma.
12. Bagian kalimat yang diawali oleh kata depan dan terletak di awal kalimat, penulisannya, diikuti oleh tanda baca koma.
13. Bagian kalimat yang diawali dengan kata depan dan berada di tengah kalimat tidak didahului oleh tanda baca koma.
14. Kata dan pada rangkaian rincian didahului oleh tanda baca koma: buku, pensil, dan penggaris.
15. Kata perangkai antarkalimat diikuti oleh tanda baca koma.

C. Bahasa Indonesia dalam Surat
a) Penggunaan Kata Baku
Penggunaan kata-kata dialek yang belum diakui kebakuannya dalam surat dinas tidak dibenarkan. Penggunaan kata-kata gimana, ngapain, kenapa, entar, kasih, bikin, betulin, kagak, dan cuman termasuk tidak baik. Padanan kata-kata tersebut yang dianggap baku adalah bagaimana, mengapa, nanti, beri, membuat, memperbaiki, tidak, dan hanya. Sebagian kata yang baku dapat dilihat dalam daftar berikut.

Kata Baku Kata Tidak Baku
Februari Pebruari
November Nopember
Senin Senen
Jumat Jum’at
mengubah merubah
formal formil

Kata Baku Kata Tidak Baku
persen prosen
sistem sistim
pertanggungjawaban pertanggung jawaban
pikir fikir
paham faham
diberi tahu dikasih tahu
membuat membikin

b) Kata yang Lazim
Dalam surat resmi digunakan kata-kata yang lazim dalam masyarakat, yaitu kata-kata yang sudah dikenali. Sedapat-dapatnya Anda menggunakan kata atau istilah dalam bahasa Indonesia, bukan istilah asing. Gunakanlah kata-kata masukan bukan input, pendekatan, dampak bukan impact, kendala bukan constraint dan sebagainya.

c) Kata yang Cermat
Penggunaan sapaan Bapak, Ibu, Saudara, dan Anda hendaknya tepat pula sesuai dengan kedudukan orang yang dikirimi surat tersebut, apakah penerima surat itu lebih tinggi pangkat dan kedudukannya, ataukah penerima surat itu sederajat kedudukannya dengan pengirim surat.

d) Ungkapan Idiomatik
Unsur-unsur dalam ungkapan idiomatik sudah tetap dan senyawa. Oleh karena itu, unsur-unsur tersebut tidak boleh dtambahi, dikurangi, atau dipertukarkan. Yang termasuk ungkapan idiomatik itu, antara lain,
sesuai dengan, berkenaan dengan, sehubungan dengan, terjadi dari, sejalan dengan, terdiri atas, seirama dengan, disebabkan oleh, berbicara tentang, bermusyawarah tantang,

e) Ungkapan Penghubung
Ungkapan penghubung dalam bahasa Indonesia ada dua, yaitu ungkapan penghubung intrakalimat dan ungkapan penghubung antarkalimat. Ungkapan penghubung intrakalimat berfungsi menghubungkan unsur-unsur dalam suatu kalimat. Yang termasuk ungkapan penghubung intrakalimat adalah antara lain, baik … maupun, antara … dan, seperti dan misalnya, serta demikian dan sebagai berikut.

f) Ungkapan yang Bersinonim
Ungkapan-ungkapan yang bersinonim berikut tidak digunakan sekaligus karena penggunaan dua kata yang berarti sama merupakan penulisan yang mubazir. Penulis surat dinas harus menentukan salah satu di antaranya.
Contoh:
Sejak dan dari (tidak digunakan dalam satu kalimat)
adalah dan merupakan (tidak digunakan sekaligus)
demi dan untuk sebagainya (tidak digunakan sekaligus)
antara lain dan lain-lain (tidak digunakan sekaligus)
agar dan supaya (tidak digunakan sekaligus)

g) Kata-Kata yang Mirip
Dalam bahasa Indonesia terdapat kata-kata yang mirip, baik dari segi bentuk maupun segi makna. Bahkan, dari segi makna boleh dikatakan bahwa kata-kata tersebut bersinonim. Yang termasuk kata-kata yang mirip, antara lain, suatu dan sesuatu, masing-masing dan tiap-tiap, jam dan pukul, serta dari dan daripada.

h) Penerapan Ejaan yang Disempurnakan
Penulis surat dinas sebaiknya menguasai kaidah-kaidah ejaan yang terdapat dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Harus diakui, selama ini masih ada penulis surat dinas yang kurang memperhatikan kaidah ejaan. Dalam surat-surat resmi masih terdapat penulisan yang serangkai, padahal seharusnya terpisah, atau sebaliknya. Agar pembaca buku ini meperoleh gambaran yang jelas, berikut ini didaftarkan contoh penulisan yang benar dan penulisan yang salah.

Baku Tidak baku
u.p (untuk perhatian) u/p atau c/q
d.a. (dengan alamat) d/a
s.d. (sampai dengan) s/d
a.n. (atas nama) a/n
u.b. (untuk beliau) u/b
dkk. (dan kawan-kawan) d.k.k.
PT P.T.
CV C.V.
pascapanen pasca panen
subbagian sub bagian
sebseksi sub seksi
tunakarya tuna karya
tunawisma tuna wisma
memberi tahu memberitahu
berterima kasih berterimakasih
betanda tangan bertandatangan
memberitahukan memberi tahukan
diserahterimakan diserah terimakan
menandatangani menanda tangani

D. Penggunaan Ejaan dalam Penulisan Komponen Surat
a) Kepala Surat atau Kop Surat
Dalam kepala surat yang lengkap tercantumkan (biasanya tercetak).
1) Nama instansi atau badan
Nama instansi atau badan yang bersangkutan ditulis dengan huruf kapital semua pada bagian atas kertas, di tengah-tengah secara sistemayis kiri-kanan.
2) Alamat lengkap
Alamat kantor dituliskan dengan huruf-huruf awal kata kapital, kecuali kata tugas atau dengan huruf kapital semua, yang ukurannya lebih kecil daripada huruf-huruf untuk nama instansi. Unsur-unsur kalimat dipisahkan dengan tanda koma, jalan, bukan disingkat Jl. Atau Jln.
3) Nomor telepon
Jika kantor tersebut memiliki nomor telepon, dituliskan kata Telepon, bukan Tilpon, dan bukan bula Telp. Atau Tilp.. Kemudian, nomor telepon tidak perlu diberi titik karena bukan merupakan suatu jumlah. (Telepon 4896558, bukan 4.896.558).
4) Nomor kotak pos;
Tuliskan Kotak Pos jika kantor tersebut memilikinya, bukan PO Box.
5. Alamat kawat, dan
6. Lambang instansi atau logo.
Bahkan, jika instansi atau badan tersebut bergerak dalam bidang bisnis atau dunia usaha, selain bagian-bagian di atas, dalam kepala surat juga tercantum (7) alamat kantor cabang, (8) nama bank, dan (9) jenis usaha.
Contoh:

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA
JALAN DIKSINAPATI BARAT IV, RAWAMANGUN,
JAKARTA 13110
KOTAK POS 2625, TELEPON 4896558, 4894584

b) Tanggal Surat
Penulisan tanggal surat dinas perlu memperhatikan hal-hal berikut.
(1) Tidak perlu didahului nama kota, karena nama kota itu sudah tercamtum pada kepala surat.
(2) Nama bulan jangan disingkat atau ditulis dengan angka (November menjadi Nov. atau 11; Februari manjadi Feb. atau 2).
(3) Tahun dituliskan lengkap, tidak disingkat dengan tanda koma di atas.
(4) Pada akhir tanggal surat tidak dibubuhkan tanda baca apa pun, baik titik maupun tanda hubung.
Contoh:

KEPALA SURAT
———————————————————————————
28 Oktober 1989

c) Nomor Surat
Penulisan nomor surat perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
(1) Kata Nomor (lengkap) diikuti tanda titik dua.
(2) Jika nomor itu disingkat dengan NO., penulisannya diikuti dengan tanda titik, kemudian diikuti tanda tittik dua.
(3) Garis miring yang digunakan dalam nomor dan kode surat tidak didahului dan tidak diikuti spasi.
(4) Angka tahun sebaiknya dituliskan lengkap dan tidak diikuti tanda baca apa pun.
Contoh:
Penulisan nomor dan kode surat yang salah.
Nomor: 3241/F8/UI.5/87._
No.: 3241/F8/UI.5/87._
Penulisan nomor dan kode surat yang benar.
Nomor: 3241/F8/UI.5/87
No.: 3241/F8/UI.5/87

d) Lampiran
Penulisan kata lampiran dituliskan sebgaia berikut,
(1) Kata Lampiran atau Lamp. diikuti tanda titik dua.
(2) Jumlah yang dilampirkan dan nama barang yang dilampirkan dicantumkan dan tidak diikuti tanda baca apa pun.
Contoh:
Penulisan lampiran yang salah.
Lampiran: satu berkas.
Lamp.: dua eksemplar.

Penulisan lampiran yang benar.
Lampiran: Satu berkas.
Lamp.: Dua eksemplar

Ketentuan di atas berlaku jika pada surat tersebut dilampirkan sesuatu. Jika tidak ada lampiran, kata Lampiran tidak perlu dicantumkan sehingga tidak akan terdapat kata lampiran yang diikuti tanda hubung atau angka nol, seperti
Lampiran: –
tidak perlu ditulis
Lampiran: 0

e) Hal Surat
Dalam kaitan dengan ini, kita sering juga menjumpai kata perihal dalam surat dinas. Walau kata hal dan perihal itu sinonim, atau berarti sama, sebaiknya digunakan kata hal karena lebih singkat. Pokok surat yang dicantumkan dalam bagian ini hendaknya diawali huruf kapital, sedangkan yang lain dituliskan dengan huruf kecil. Pokok surat tidak ditulis berpanjang-panjang, tetapi singkat dan jelas, serta mencakup seluruh pesan yang ada dalam surat.
Contoh:
Penulisan hal yang salah
Hal: penentuan tugas pameran
(dalam rangka Dies Natalis VI dan Lustrum II)
yang akan diselenggarakan tanggal 5-10 Oktober 1987

Penulisan hal yang benar
Hal: Petugas pameran Dies natalis

f) Alamat dalam Surat
1) Alamat yang dituju ditulis di sebelah kiri surat pada jarak tengah, antar hal surat dan salam pembuka. Posisi alamat surat pada sisi sebelah kiri ini lebih menguntungkan daripada dituliskan di sebelah kiri ini lebih menguntungkan daripada dituliskan di sebelah kanan karena kemungkinan pemenggalan tidak ada. Jadi, alamat yang cukup panjang pun dapat dituliskan tanpa dipenggal karena tempatnya cukup leluasa.
2) Alamat surat tidak diawali kata kepada karena kata tersebut berfungsi sebagai penghubung intrakalimat yang menyatakan arah. (Alamat pengirim pun tidak didahului kata dari karena kata dari berfungsi sebagai penghubung intrakalimat yang menyatakan asal).
3) Alamat yang dituju diawali dengan Yth. (diikuti titik) atau Yang terhormat (tidak diikuti titik).
4) Sebelum mencantumkan nama orang yang dituju, biasanya penulis surat mencantumkan sapaan Ibu, Bapak, Saudara atau Sdr.
5) Jika nama orang yang dituju bergelar akademik yang ditulis di depan namanya, seperti Drs., Ir., kata sapaan Bapak, Ibu, atau Saudara tidak digunakan. Demikian juga, alamat yang dituju itu memiliki pangkat, seperti sersan atau kapten, kata sapaan itu tidak digunakan. Jika yang dituju adalah jabatan orang tersebut, kata sapaan juga tidak digunakan. Ketentuan-ketentuan ini bertujuan agar sapaan Bapak, Ibu, atau Saudara tidak berimpit dengan gelar akademik, dengan pangkat, atau dengan jabatan.
Contoh:
Penulisan alamat yang salah
Kepada Yth. Bapak Drs. Darwino
Kepada Yth. Bapak Lurah Desa Tajur
Kepada Yth. Bapak Kapten Budi

Penulisan alamat yang benar
Yth. Bapak Drs. Darwino
Yth. Bapak Lurah Desa Tajur
Yth. Bapak Kapten Budi

6) Penulisan kata jalan pada alamat tidak singkat. Kemudian, nama gang, nomor, RT, dan RW biasanya dituliskan lengkap dengan harus kapital setiap awal kata. Selanjutnya, nama kota dan propinsi dituliskan huruf awal kapital, tidak perlu digarisbawahi atau diberi tanda baca apa pun.
Contoh:
Penulisan alamat yang salah
Kepada Yth. Bapak Ir. Fernandez
Jl. Buntar V, No.2
Padang
Sumatra Barat

Penulisan alamat yang benar
Yth. Ir. Fernandez
Jalan Buntar V/2 Padang
Sumatra Barat

g) Salam Pembuka
Salam pembuka dicantumkan di sebelah kiri garis tepi dengan nomor, lampiran, hal, dan alamat surat. Huruf pertama awal kata dituliskan dengan huruf kapital, sedangkan kata yang lain dituliskan kecil semua, kemudian salam pembuka itu diikuti tanda koma.
Ungkapan yang lazim digunakan sebagai salam pembuka dalam surat-surat dinas yang bersifat netral adalah
Dengan hormat,
Salam sejahtera,
Saudara …,
Saudara … yang terhormat,
Bapak … yang terhormat,
Salam sejahtera,

Dalam surat dinas yang bersifat khusus digunakan salam pembuka yang sesuai dengan lingkungannya, seperti
Assalamualaikum w.w.,
h) Isi Surat
1) Paragraf Pembuka
Paragraf pembuka surat adalah pengantar isi surat untuk mengajak pembaca surat menyelesaikan perhatiannya kepada pokok surat yang sebenarnya. Kalimat pengantar yang lazim digunakan untuk mengawali paragraf pembuka pada surat dinas yang berisi pemberitahuan adalah sebagai berikut.
(1) Dengan ini perkenankanlah kami melaporkan kepada Bapak pelaksanaan ujian dinas di lingkungan ….
(2) Sehubungan dengan surat kami tunggal 5 Agustus 1987 No. 425/F-1/1987, dengan ini kami mohon agar Saudara segera mengirimkan surat keterangan lolos butuh dari pimpinan Saudara.
(3) Bersama ini kami kirimkan contoh laporan teknis yang Saudara minat.
(4) Sebagai tindak lanjut dari pertemuan kita ……..
(5) Sebagai realisasi dari perundingan kita ……..
(6) Kami mohon bantuan Saudara untuk ……..
(7) Dengan sangat menyesal kami beri tahukan ……..
(8) Pada kesempatan ini kami bermaksud menanyakan ……..
Contoh pengantar kalimat pada paragraf pembuka surat balasan adalah sebagai berikut.
(1) Surat Anda tanggal 27 Februari 1987, No.221/U/1997 sudah kami terima dengan senang hati. Bertalian dengan itu, kami ingin menanggapi sebagai berikut.
(2) Sehubungan dengan surat Saudara tanggal 26 Maret 1987 No.1415/K-2/1987 tentang Syarat-syarat sayembara, kami beri tahukan hal-hal berikut.
(3) Untuk menjawab surat Saudara No. …….
(4) Untuk memenuhi permintaan Saudara melalui surat No. ……..
(5) Berdasarkan iklan perusahaan Saudara dalam harian ……..
(6) Untuk membalas surat Saudara No. ……..
(7) Berkenaan dengan surat Saudara No. ……..
(8) Setelah membaca iklan perusahaan Bapak dalam harian ……..

Catatan:
Kata kami digunakan jika penulis surat mengatasnamakan suatu organisasi atas suatu instansi. Akan tetapi, jika atas nama dirinya sendiri, kata ganti yang tepat adalah saya.

2) Paragraf Isi
Setiap paragraf isi surat hanya berbicara tentang satu masalah. Jika ada masalah lain, masalah itu dituangkan dalam paragraf yang berbeda. Terakhir, kalimat-kalimat dalam paragraf/isi hendaknya pendek, tetapi jelas.
Rumusan isi surat itu juga harus menarik, tidak membosankan, tetapi tetap hormat dan sopan. Penulis surat harus benar-benar mengakui dan menghormati hak penerima surat. Oleh karena itu, penulis hendaknya menghindari sikap menganggap remeh terhadap orang lain, apalagi menghina atau mempermainkannya.

3) Paragraf Penutup
Paragraf penutup berfungsI sebagai kunci isi surat atau penegas isi surat. Berikut ini disajikan beberapa contoh paragraf penutup.
(1) Atas kerja sama Saudara selama ini, kami ucapkan terima kasih.
(2) Kami harap agar kerja sama kita membuahkan hasil yang baik dan berkembang terus.
(3) Mudah-mudahan jawaban kami bermanfaat bagi Anda.
(4) Sambil menunggu kabar lebih lanjut, kami ucapkan terima kasih.
(5) Kami menunggu kabar lebih lanjut, dan atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
(6) Harapan kami semoga kerja sama yang telah kita bina dapat ditingkatkan terus.
(7) Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
(8) Atas bantuan dan perhatian Saudara, kami ucapkan terimakasih.

i) Salam Penutup
Salam penutup berfungsi untuk menunjukkan rasa hormat penulis surat setelah berkomunikasi dengan pembaca surat. Salam penutup dicantumkan di antara paragraf dan tanda tangan pengirim,.
Huruf awal kata salam penutup ditulis dengan huruf kapital, sedangkan kata-kata lainnya ditulis kecil. Sesudah salam penutup dibubuhkan tanda koma.
Misalnya:
Salam takzim,
Salam kami,
Hormat kami,
Wasalam,
Teriring salam,
Salam hormat,

j) Tanda Tangan, Nama Jelas dan Jabatan
(1) Surat dinas dianggap sah jika ditandatangani oleh pejabat yang berwenang, yaitu pemegang pimpinan suatu instansi, lembaga, atau organisasi.
(2) Nama jelas penanda tangan dicantumkan di bawah tanda tangan dengan huruf awal setiap kata ditulis kapital, tanpa diberi kurung dan tanpa diberi tanda baca apa pun.
(3) Di bawah nama penanda tangan dicantumkan nama jabatan sebagai identitas penanda tangan tersebut.

Tanda tangan, nama jelas, dan jabatan yang salah.
Tanda tangan

(Drs. ARI RAHMADI)
Kepala

Tanda tangan, nama jelas, dan jabatan yang benar.
Tanda tangan

Drs. Ari Rahmadi
Kepala

k) Tembusan
(1) Kata tembusan diletakkan di sebelah kiri pada bagian kaki surat, lurus dengan kata nomor, lampiran, dan hal, dan sejajar dengan penanda tangan surat.
(2) Kata tembusan diikuti tanda titik dua, tanpa digarisbawahi.
(3) Jika pihak yang ditembusi surat itu lebih dari satu, nama-nama instansi diberi nomor urut, Akan tetapi, jika pihak yang ditembusi hanya satu, nama instansi itu tidak diberi nomor.
(4) Dalam tembusan tidak perlu digunakan kata-kata Yth., Kepada Yth., sebagai laporan, atau sebagai undangan.
(5) Pencantuman kata arsip pada nomor terkhir tidak dibenarkan. Hal itu tidak ada manfaatnya karena sudah pasti setiap surat dinas itu memiliki arsip yang harus disimpan.

Penulisan tembusan yang salah
Tembusan:
1. Kepada Yth. Direktur Sarana Pendidikan (sebagai laporan)
2. Yth. Kepala Bagian Tata Usaha (sebagai undangan)
3. Sdr. Erwin (agar dilaksanakan)
4. Arsip.

Penulisan tembusan yang benar
Tembusan:
1. Direktur Sarana Pendidikan
2. Kepala Bagian Tata Usaha
3. Sdr. Erwin

l) Inisial
(1) Inisial disebut juga sandi, yaitu kode pengenal yang berupa singkatan nama pengonsep dan singkatan nama pengetik surat.
(2) Inisial atau sandi berguna untuk mengetahui siapa pengonsep dan pengetik surat sehingga jika terjadi kesalahan dalam surat tersebut, pengonsep dan pengetik surat dapat dihubungi dengan mudah.
(3) Inisial ditempatkan pada bagian paling bawah di sebelah kiri.
Misalnya:

MSD/SS

Keterangan:
MSD singkatan nama pengonsep: Mirna Sari Dewi
SS singakatan nama pengetik: Sandi Susatio


5 thoughts on “Artikel

    IMAM SUYITNO said:
    5 Maret 2009 pukul 8:51 pm

    MEMBANGKITKAN GREGET SISWA BELAJAR BAHASA INDONESIA MELALUI PEMBELAJARAN BERFOKUS PADA MASALAH

    Oleh: Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd

    Admin:
    (Konten tulisan ini telah diupload di halaman Artikel di atas)

    IMAM SUYITNO said:
    11 Maret 2009 pukul 6:34 pm

    TEKNIK PRESENTASI
    oleh: Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd

    Admin:
    Konten tulisan ini telah diupload di home

    IMAM SUYITNO said:
    11 Maret 2009 pukul 6:46 pm

    NAWAVIRUS BAHASA INDONESIA
    (oleh: Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd)

    Admin:
    Konten tulisan ini sudah diupload ke home

    IMAM SUYITNO said:
    11 Maret 2009 pukul 7:07 pm

    PENGGUNAAN EJAAN DALAM NASKAH DINAS
    Oleh: Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd

    Admin:
    Konten tulisan ini sudah diupload di halaman artikel

    Niken Pramanik said:
    19 Mei 2010 pukul 6:31 pm

    Yth. Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu Pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia

    Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia akan mengadakan Konferensi Internasional Pengajaran BIPA pada tanggal 29–31 juli 2010. Kami berharap Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu dapat mengikuti kegiatan konferensi tersebut. Demikian pemberitahuan dari kami. Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Bapak. Panitia dapat dihubungi di 021-7864075 dan kipbipa7ui@yahoo.com

    Hormat kami,

    Panitia KIPBIPA VII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s