Pengalaman

Berikut pengalaman bersama sastrawan yang disampaikan dengan gaya saya. Konten ini hanya contoh, teman-teman dapat mengirim tulisan serupa ke email mgmp.indonesia@gmail.com dan akan diupload ke sini.

“Ngopi Bareng” Taufik Ismail
Begitulah acara itu dinamakan. Atas jasa Forkis UM, Bapak Taufiq Ismail datang ke Malang bersama Sdr. O. Solihin, penulis buku best seller berjudul Jangan Jadi Bebek. Saya sebut saudara karena usianya lebih muda empat tahun dari pada saya. Sungguh penulis muda yang berbakat dan sukses. Selain itu Sdr. O. Solihin juga agamis dan baik hati, saya salut. Dalam dialog tersebut Bapak Taufik Ismail mengampanyekan Anti Gerakan Syahwat Merdeka yang menodai dunia sastra. Sastra harus dibebaskan dari liberalisme, baik yang mengatasnamakan seni maupun kebebasan berekspresi. Dalam kesempatan tersebut beliau juga membacakan puisi tentang 100 tahun Kebangkitan Nasional dan membacakan memoarnya untuk Alm. Chrisye. Terutama tentang proses rekaman lagu Ketika Tangan dan Kaki Bicara, yang syairnya diambil Pak Taufiq dari Surat Yaasin. Chrisye merasa luluh lantak dan tak kuat menyanyikannya. Pengalaman dahsyat sepanjang karirnya.
Ada seseorang yang berpesan kepada saya untuk dibelikan buku Mengakar ke Bumi Menggapai ke Langit karya terbaru Pak Taufiq. Ternyata tidak ada bursa buku. Lalu saya nekat mengemukakannya kepada Sdr. O. Solihin. Alhamdulillah. Buku tersebut dimiliki oleh saudaraku yang baik hati itu, hadiah dari Pak Taufiq. Atas izin Pak Taufiq buku tersebut (jilid 4) diberikan kepada saya walaupun telah bertuliskan:

Untk Sdr O. Solihin
dengan salam
Taufiq Ismail

Terima kasih Saudaraku, hanya Allah yang dapat membalas berlipat-lipat atas kemurahan hati Anda. Saya minta maaf telah menyebabkan buku yang diberikan dengan penuh makna oleh Bapak Taufiq Ismail kepada Anda, berpindah ke tangan orang lain.

Ngopi Bareng Taufiq Ismail membuat saya teringat acara 8 tahun yang lalu. Pada tahun 2000, saya pernah memandu acara Bapak Taufiq Ismail yang fenomenal yaitu SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya). Waktu itu saya masih berdinas di SMA Negeri 1 Pamekasan, Madura. Sekolah saya merupakan salah satu dari tempat-tempat di seluruh Indonesia yang dikunjungi TIM SBSB. Saya sangat bangga dan bersyukur dapat berdialog dengan sastrawan-sastrawan besar seperti, Taufiq Ismail dan istri, Hamid Jabbar (alm), D. Zawawi Imron, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, Ike Soepomo, Rayani Lubis, Putri Chairil Anwar, dan beberapa sastrawan top lainnya.
Selain diskusi tentang sastra, saya juga bertanya kepada Bapak Taufiq Ismail tentang arti kata Umbu pada puisi Beri Daku Sumba karya beliau.

/Di Uzbekistan ada padang luas dan berdebu/
/Aneh, aku jadi ingat pada Umbu/

Dalam pelajaran Apresiasi Puisi, saya selalu ragu-ragu untuk menginterpretasikan kata Umbu. Apakah kampung halaman, seperti kata dosen saya dahulu? Ataukah bermakna lain? Oleh karena itu, ketika acara SBSB selesai, saya beranikan diri untuk menenui beliau di halaman sekolah. Saya bertanya,

” Pak, apa arti kata Umbu pada puisi Beri Daku Sumba?”

” Oo, Umbu itu teman saya, namanya Umbu Landu Paranggi.”

Mengapa Bapak teringat dia saat di Uzbekistan?

” Karena dia berasal dari Sumba, Nusa Tenggara Timur, yang sebagian wilayahnya mirip dengan Uzbekistan.”

Oo….  Umbu Landu Paranggi yang juga sastrawan itu Pak?

“Benar.”

Untuk Bapak Taufiq Ismail: saya kagum dan terinspirasi oleh sikap dan karya-karya Bapak.
Untuk Sdr. O. Solihin: semoga semakin sukses.

Ditulis oleh Lilis Indrawati
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 7 Malang
Emai: lilis_sma7@yahoo.co.id
Blog: http://lilisindrawati.blogspot.com


7 thoughts on “Pengalaman

    Laili Ivana said:
    28 Juli 2008 pukul 10:18 pm

    KEREN! Mudah-mudahan blog ini bermanfaat bagi kita untuk menambah ilmu dan memotivasi diri untuk memperbanyak pengalaman terutama dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia.

    Admin:
    Amin. Kami menunggu naskah dan komentar Ibu.

    penjas kotabogor said:
    8 Februari 2009 pukul 1:08 am

    salam hangat MGMP Penjas kota Bogor ni bu……
    wak kerennn blognya serba gelap…..

    Fahmi Latif said:
    15 Februari 2009 pukul 3:24 pm

    salam hangat jugak dari malaysia… :

    rahmatsumba said:
    11 April 2009 pukul 2:07 pm

    salam kenal…kapan mau kesumba disana kamu akan bertemu dengan banyak umbu………..

    Martha said:
    26 April 2009 pukul 3:35 pm

    Astagfirllah…
    Ibu satu ini ternyata berbakat sebagai komedian juga…
    Setelah membaca ulasan diatas saya jadi tertawa terbahak-bahak, gara-gara Pak Umbu…Umbu,apakah kampung halaman, seperti kata dosen saya dahulu?hehehee…Eh ternyata Pak Umbu sahabat Pak Taufiq Ismail…Lalu apa ekspresi Ibu pada waktu itu, ketika mengetahui bahwa kata Umbu adalah sahabat Pak Taufik Ismail?
    Biasa-biasa saja atau sama seperti saya pada saat menulis ini tertawa terbahak-bahak??Hm..salut untuk ibuku…

    Retno Sulistyowati said:
    9 Juni 2009 pukul 9:45 am

    PENGALAMAN SEKALIGUS KEJUTAN

    ” 1 JAM BERSAMA ZAWAWI IMRON SEBAGAI TAMU KELUARGA”

    Tepatnya Jumat sore 5 Juni 2009 yang lalu, mulai jam 15.30-16.30.
    Waktu itu Mobil XENIA berhenti tepat di depan rumah namun penumpang didalamnya tidak kunjung turun, baru 10 menit kemudian sewaktu Bp. Imam Suyitno datang, pintu Xenia terbuka dan begitu akrapnya sapaan keduanya, baru saya sadar ternyata yang ada di dalam XENIA adalah budayawan sekaligus penyair asal pulau garam. Rasanya bermimpi bisa duduk bercanda dan menimba ilmu langsung dari ahlinya.

    Budayawan dan penyair dari Pulau Madura “Zawawi Imron”

    Apa yang dilihatnya!
    Apa yang didengarnya!
    Apa yang dirasa!

    Semua dapat diwujudkan dalam bentuk karya, bahkan semua kata yang dilontarkan dapat tersusun indah, puitis dan kandungan maknanya cukup dalam. Beliau sempat membacakan puisi hasil karyanya antara lain
    “Akar Rumput”, “Banyuwangi”, “Losari”, “Ibuku”

    Pada saat puisi “Akar Rumput” dibacakan dengan ekspresi yang membara, kata demi kata terluncur Dia katakan ini bukan puisi sembarangan, ini maknanya sangat dalam. Sempat hati teriris menikmati puisinya. Dengan gaya khas seorang penyair Dia bebas tertawa, bicara, dan bercerita.

    Ada beberapa kata yang disampaikan sebelum beliaunya berpamitan, kata-kata itu sangat membekas dibenak saya yaitu:

    “Mlaku Siro yen arep turu”
    “Turuo Siro yen arep nesu”
    “Nesuo Siro yen arep perang”

    Beliaunya berpesan,
    *Dari pada tidur lebih baik bertindak/ bekerja/ berkarya.
    *Tidur saja dari pada marah-marah, kalau orang mau marah/ berkelahi tidak usah sekolah tinggi-tinggi anak kecil bisa melakukannya.
    *Silahkan marah/bertindak dan kobarkan semangat pada saat Anda maju perang.

    Begitu indah bila pesan itu dapat terwujudkan, rasanya ingin berlama-lama untuk bertanya, menguras semua yang terekam dalam benak beliau, namun apa boleh buat acara Beliau yang begitu padat membuat kami sekeluarga harus berpisah sore itu. Beliau berjanji akan berkunjung lagi di gubuk Jalan Akordion Selatan.

    Hormat kami Sekeluarga
    untuk Bapak Zawawi Imron.

    Ditulis oleh: Retno Sulistyowati
    Guru SMA Kertanegara Malang

    yoga said:
    17 Maret 2015 pukul 4:03 pm

    Umbu adalah sebutan untuk bangsawan laki2 sumba, sedangkan untuk bangsawan wanita sebutannya Rambu. seiring perkembangan zaman sekarang kata atau sebutan umbu byk digunakan untuk panggilan kakak laki-laki seperti layaknya mas di jawa atau akang di sunda, semoga bermanfaat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s